Dikepung Pusaran Api dan Asap: Kisah Manggala Agni yang Menantang Maut di Hutan OKI
Kisah Manggala Agni yang Menantang Maut di Hutan OKI(Kemenhut)

ANGIN tiba-tiba bertiup kencang, memutar debu, asap, dan ratusan bara api merah yang menyala-nyala ke udara. Di tengah pusaran puting beliung membara di Ogan Komering Ilir itu, Haris Suyanto sempat terdiam, menyadari bahwa dalam hitungan detik, nyawanya sedang dipertaruhkan di antara kepulan asap tipis dan kobaran karhutla. Namun bagi pria yang telah 21 tahun mengenakan seragam Manggala Agni ini, kepungan api di tengah hutan bukanlah alasan untuk mundur.

Haris, yang telah mengabdi selama hampir 21 tahun di Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Sumatera XVII di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, mengungkapkan peristiwa itu terjadi ketika dirinya mendokumentasikan rekan-rekannya yang tengah memadamkan api.

“Pada saat itu saya sedang bekerja sambil mendokumentasikan kawan-kawan yang melakukan pemadaman. Muncul angin puting beliung sekitar beberapa menit saya terjebak di tengahnya. Puting beliung ada bara, asap semua jadi satu. Tapi karena kita Manggala Agni Kemenhut kan terlatih alhamdulillah selamat,” kata Haris, Rabu (14/10).

Pengalaman tersebut menjadi salah satu tantangan paling berkesan selama Haris bertugas mengendalikan karhutla. Meski menghadapi situasi berbahaya, kejadian itu tidak mematahkan semangatnya untuk terus menjalankan tugas.

Haris menuturkan, pengabdiannya sebagai anggota Manggala Agni berawal dari pengalaman masa kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar pada era 1990-an, ia menyaksikan kebakaran hutan di wilayah tempat tinggalnya. Pengalaman itu menumbuhkan tekad untuk bergabung dengan pasukan pemadam kebakaran hutan ketika dewasa.

Selama hampir dua dekade lebih bertugas, Haris menyadari bahwa keberhasilan pemadaman sangat bergantung pada kekompakan tim. Setiap personel memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari menyiapkan peralatan hingga mengoperasikan mesin pemadam.

“Karena kita kerjanya satu tim kita harus kompak. Ketika mau bekerja itu proses panjang kita lewati sama-sama. Ada yang mengeluarkan nozzle ada yang menyalakan mesin, ada briefing ada kekompakan,” ujarnya.

Beratnya tugas di lapangan juga dirasakannya saat menghadapi karhutla besar pada 2023 yang dipengaruhi fenomena El Nino. Ketika itu, Haris bersama rekan-rekannya harus tinggal di lokasi pemadaman selama berbulan-bulan dengan waktu istirahat terbatas.

“Ada kebakaran hutan yang sangat besar karena dampak El Nino juga. Kita bertenda hampir tiga bulan bertenda. Berangkat 26 hari pulang istirahat 3 hari berangkat lagi 23 hari,” tuturnya.

Menurut Haris, dukungan keluarga dan lingkungan kerja menjadi faktor penting yang membuatnya bertahan menjalankan tugas. Ia juga menegaskan bahwa pekerjaan Manggala Agni tidak berhenti ketika musim kemarau berakhir atau saat tidak terjadi karhutla.

Dalam kondisi tersebut, personel tetap menjalankan edukasi kepada masyarakat, patroli mandiri, serta patroli bersama untuk mencegah kebakaran. Koordinasi juga dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Bhabinkamtibmas.

“Kerja Manggala Agni Kemenhut tidak hanya di musim kemarau saja, kalau tidak ada karhutla kita memberikan edukasi, patroli keliling ada patroli mandiri dan patroli bersama,” katanya.

Haris mengungkapkan, kehadiran pimpinan di lapangan turut memberikan dorongan moral bagi personel yang berjibaku memadamkan api. Ia mengapresiasi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang disebutnya beberapa kali datang langsung ke lokasi tugas.

“Luar biasa sekali Pak Menteri beliau senantiasa hadir ke lapangan. Di Daops ini saja sudah dua kali terus ke lapangan. Beliau sangat tahu persis kondisi di lapangan,” ujarnya.

Atas pengabdiannya, Haris pernah meraih penghargaan sebagai aparatur sipil negara (ASN) Teladan Wanalestari terbaik kedua pada tahun lalu.

(P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *