Karhutla Meluas, Pakar Dorong Penguatan Metode Pemadaman
Petugas dari Manggala Agni Daops Sumatera XVI-Lahat memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Sungai Bungin, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Rabu (9/9/2026)(ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Sumatra dan Kalimantan dipengaruhi oleh kondisi kemarau berkepanjangan akibat El Nino serta karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah. Kedua faktor tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih kompleks.

Pakar kebakaran hutan dan lahan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Fiqri Ardiansyah mengatakan curah hujan yang sangat rendah menyebabkan bahan bakar, termasuk lahan gambut, semakin rentan terbakar. Kondisi tersebut memburuk seiring berjalannya musim kemarau karena pasokan air untuk menjaga kelembapan semakin terbatas.

“Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar (gambut) itu menjadi lebih rentan,” kata Fiqri, Rabu (14/10).

Meski demikian, ia menegaskan kekeringan bukan satu-satunya penyebab kebakaran. Karhutla tetap membutuhkan sumber penyulutan atau ignition yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.

“Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas. Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung,” ujarnya.

Fiqri menjelaskan, kebakaran di ekosistem non-gambut umumnya terjadi di permukaan dan dapat menjalar hingga tajuk tanaman. Sementara itu, pada lahan gambut, api dapat membakar permukaan sekaligus lapisan di bawah tanah.

Karakteristik tersebut menyebabkan kebakaran gambut lebih sulit ditangani. Api yang terlihat di permukaan bisa saja telah padam, tetapi bara masih bertahan di lapisan bawah tanah. Jika penyiraman hanya menjangkau permukaan, bara tersebut berpotensi memicu munculnya titik api kembali.

“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” tuturnya.

Karena itu, pemadaman perlu disertai identifikasi kondisi dan kedalaman kebakaran untuk memastikan sumber bara benar-benar telah ditangani. Penyiraman yang tidak menjangkau lapisan gambut yang terbakar berisiko membuat api kembali menyala atau merambat ke area lain.

Selain karakteristik gambut dan kondisi cuaca, keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran turut menghambat upaya pemadaman. Sejumlah titik api berada di wilayah yang sulit dijangkau, sedangkan ketersediaan sumber air, personel, serta sarana dan prasarana pemadaman masih terbatas.

“Di beberapa area, sumber airnya terbatas sehingga api tidak bisa langsung dipadamkan seketika. Kebakarannya juga semakin luas, sementara di beberapa wilayah personel ataupun sarana-prasarananya terbatas,” jelasnya.

Dalam pemantauan karhutla, Indonesia telah memiliki sejumlah sistem deteksi titik api, di antaranya Fire Information for Resource Management System (FIRMS), Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi), serta informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurut Fiqri, kemampuan deteksi titik api saat ini sudah cukup baik. Namun, data yang dihasilkan tetap perlu dianalisis berdasarkan tingkat keyakinan atau confidence level agar informasi yang diperoleh dapat digunakan secara tepat dalam menentukan langkah penanganan.

“Tantangan berikutnya adalah meningkatkan efektivitas teknologi dan metode pemadaman, terutama untuk menangani kebakaran di bawah permukaan gambut. Sejumlah pendekatan, seperti penyuntikan air ke dalam gambut dan penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api, telah dikembangkan,” katanya.

Ia menambahkan, metode dan bahan pemadaman tersebut masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar api dapat dipadamkan hingga ke sumbernya.

Sementara itu, penyebaran api dan asap juga dipengaruhi distribusi bahan bakar, kondisi topografi, serta faktor iklim, termasuk arah angin. Faktor-faktor tersebut menentukan perkembangan api dan pergerakan asap sehingga dampak kebakaran dapat meluas hingga ke luar wilayah sumber kebakaran.

Asap karhutla yang terjadi di Indonesia bahkan dilaporkan berdampak terhadap negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, melalui penurunan kualitas udara. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Fiqri menekankan penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan hujan sebagai solusi. Upaya pencegahan perlu diperkuat melalui peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan api dalam pengelolaan dan penyiapan lahan, khususnya di wilayah yang rentan terbakar saat musim kemarau.

“Upaya pencegahan perlu dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan api dalam pengelolaan dan penyiapan lahan, khususnya di wilayah yang rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau,” tuturnya.

Ia juga mendorong kolaborasi lintas instansi dalam menangani kebakaran yang telah terjadi. Penentuan wilayah prioritas perlu mempertimbangkan tingkat risiko, dampak ekologis, kerugian ekonomi, serta konsekuensi sosial bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.

“Perlu upaya yang dilakukan tidak hanya dari satu instansi saja, tetapi juga dari berbagai instansi. Penanganannya dapat diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang memang memiliki risiko tinggi,” pungkasnya.

Menurutnya, pencegahan, pengawasan wilayah rawan, pengembangan metode pemadaman, serta koordinasi antarlembaga perlu dilakukan secara bersamaan untuk menekan risiko dan dampak karhutla, terutama ketika kemarau berkepanjangan meningkatkan kerentanan bahan bakar terhadap kebakaran.

(P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *