Kelangkaan BBM Parah Lumpuhkan Bali: Sekolah Daring hingga Sektor Wisata Terganggu
Warga mengantre untuk mendapatkan BBM di sebuah SPBU di Bali(MI/Arnoldus Dhae)

KELANGKAAN Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di Bali pada Oktober 2026 menjadi salah satu yang terparah. Antrean kendaraan yang mengular di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memicu kemacetan parah di berbagai titik sentral. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian warga, tetapi juga berdampak serius pada sektor pendidikan dan pariwisata.

Sektor Pendidikan Beralih ke Pembelajaran Daring

Dampak krisis BBM ini memaksa sejumlah lembaga pendidikan mengambil langkah darurat. Beberapa sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA resmi mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring sejak Rabu (14/10/2026).

Salah satu sekolah yang menerapkan kebijakan ini adalah SMP Dwijendra Denpasar. Kepala Sekolah SMP Dwijendra Denpasar, Made Merta Yasa, menyampaikan pengumuman resmi tersebut kepada para guru, siswa, dan orang tua.

“Karena kelangkaan BBM di Bali, maka kami mengumumkan agar siswa bisa melakukan PJJ atau daring,” ujarnya.

Langkah serupa diambil oleh jaringan sekolah Muhammadiyah di Denpasar. Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Majelis Pendidikan Menengah Muhammadiyah Denpasar, Najmuddin, telah mengeluarkan surat resmi yang ditujukan kepada Kepala SD Muhammadiyah 1, 2, 3, dan 4 Denpasar; Kepala SMP Muhammadiyah 1 dan 2 Denpasar; serta Kepala SMA dan SMK Muhammadiyah Denpasar.

“Ini untuk menyikapi kondisi kelangkaan BBM di Bali, agar tidak membebani siswa dan orang tua siswa serta para guru,” ujar Najmuddin.

Kemacetan Mengular dan Gangguan Layanan Wisata

Di sektor pariwisata, krisis BBM memicu gangguan operasional mendasar. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU meluber hingga jalan raya, bahkan dilaporkan mencapai panjang satu kilometer, sehingga melumpuhkan lalu lintas.

Pelaku pariwisata Bali, Kande Putra, membeberkan hasil pemantauannya di lapangan pada Selasa (13/10/2026) sejak pukul 07.30 WITA. Ia mencatat kemacetan parah terjadi di beberapa kawasan strategis:

  • Gatot Subroto (Gatsu) Tengah: Kemacetan terbentang dari SPBU dekat Jalan Ahmad Yani hingga perempatan Ubung.

  • Lapangan Lumintang: Antrean kendaraan memenuhi dua jalur dan mendekati kawasan KFC.

  • Renon: Antrean kendaraan di sekitar Kantor BPN melingkar hingga ke arah Jalan Badak Agung. Kemacetan juga melanda SPBU dekat BTP dan kawasan Stikom yang berdampak hingga lampu merah Bajra Sandhi.

“Yang menarik, di Gatsu Tengah Pertalite-nya sudah habis. Sudah ada pengumuman Pertalite habis, tetapi masyarakat tetap mengantre untuk mendapatkan Pertamax,” ujar Kande.

Kande menyoroti bahwa persoalan utama terletak pada kepastian pasokan BBM, bukan semata-mata jenis atau harganya. Akibat kemacetan dan antrean yang tak menentu, waktu tempuh perjalanan wisata sulit diprediksi.

“Kalau dulu perjalanan dari Kuta ke Ubud masih bisa diperkirakan 40 menit sampai satu jam. Sekarang, dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa mempredict waktu tempuh karena antrean BBM juga menyebabkan kemacetan di sejumlah kawasan,” ungkap Kande.

Kande menambahkan bahwa pada hari itu jadwal keberangkatan wisatawan yang ia tangani terpaksa mundur hingga empat jam karena harus berburu BBM terlebih dahulu, meski perjalanan akhirnya tetap dapat dilanjutkan.

Pengemudi Ojek Online Turut Terdampak

Kondisi kelangkaan pasokan ini turut dirasakan langsung oleh penyedia jasa transportasi harian. Farhan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang biasa beroperasi di kawasan Kuta, Legian, dan Canggu, menceritakan pengalamannya saat mengantar turis asing.

“Tamunya turis asing. Karena stok BBM di tanky motor hampir habis, saya mampir di SPBU. Antri selama dua jam lebih. Tamu akhirnya marah-marah dan pergi meninggalkan saya, walau biaya belum dibayar,” ujarnya.

Hingga saat ini, antrean panjang di SPBU masih terus terjadi dan menjadi kendala utama mobilitas warga serta pelayanan wisatawan di Pulau Dewata. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *