Peter Surya Wijaya Ungkap Kunci Menggarap Film Horor Komedi Ghosthing
Eksekutif produser Peter Surya Wijaya (kedua dari kiri).(Dok.Istimewa)

EKSEKUTIF produser Peter Surya Wijaya menekankan pentingnya kekuatan cerita, kolaborasi tim, dan pemahaman terhadap pengalaman penonton dalam menggarap sebuah film. Pandangan tersebut ia bagikan dalam rangkaian gala premiere film Ghosthing di Senayan City XXI, Jakarta. Film Ghosthing dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.

Film produksi Imperial Pictures itu menjadi proyek terbaru Peter di dunia perfilman. Sebelumnya, ia terlibat dalam sejumlah karya, di antaranya Kromoleo dan Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia.

Dalam Ghosthing, Peter kembali menjalankan peran sebagai eksekutif produser, bekerja bersama Hartawan Triguna sebagai produser dan Arie Aziz sebagai sutradara. Daya tarik film tidak hanya terletak pada cerita yang disajikan, tetapi juga pada kemampuannya membangun pengalaman emosional bagi penonton.

“Daya tarik film bagi saya adalah kemampuannya membuat orang ikut merasakan sebuah cerita. Ada yang pulang sambil tertawa, ada yang masih memikirkan tokohnya setelah beberapa hari. Saya ingin ikut membantu cerita yang kami percaya bisa terwujud dan mendapat kesempatan untuk bertemu penontonnya,” paparnya.

Menurut Peter, pemilihan proyek film perlu mempertimbangkan sejumlah aspek yang saling berkaitan, mulai dari kekuatan cerita, target penonton, hingga kesiapan tim produksi. Premis yang menarik, harus dikembangkan secara matang agar mampu mempertahankan perhatian penonton sepanjang film.

Pandangan tersebut turut menjadi pertimbangan dalam penggarapan Ghosthing, film horor komedi yang memadukan ketegangan dengan humor melalui pertemuan dua karakter dari dunia berbeda.

Film ini mengikuti kisah Alfian, seorang perias jenazah yang diperankan Baskara Mahendra, dan Maya, arwah seorang influencer yang diperankan Yasamin Jasem. Pertemuan keduanya membawa Alfian ke dalam upaya mengungkap misteri kematian Maya, sekaligus menghadirkan berbagai situasi yang menggabungkan unsur horor dan komedi.

“Yang menarik dari Ghosthing adalah pertemuan dua karakter dengan dunia dan kepribadian yang sangat berbeda. Ada ruang untuk membuat penonton penasaran, tegang, sekaligus tertawa. Tantangannya adalah menjaga agar penonton ingin terus mengikuti perjalanan mereka sampai akhir,” terangnya 

Kolaborasi Jadi Kunci Produksi

Dalam kapasitasnya sebagai eksekutif produser, Peter menilai dukungan terhadap produksi film tidak cukup hanya berfokus pada aspek pendanaan atau terlaksananya proyek. Pemahaman terhadap kebutuhan tim kreatif dan komunikasi yang terarah sejak awal juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan sebuah karya. Perencanaan yang matang,  membantu produser, sutradara, pemain, dan kru menyelaraskan visi serta mengembangkan cerita sesuai tujuan yang telah disepakati.

“Bagi saya, mendukung sebuah film juga berarti memberi kepercayaan kepada orang-orang yang mengerjakannya. Produser, sutradara, pemain, dan kru membawa keahlian masing-masing. Perencanaan yang jelas membantu mereka bekerja dan mengembangkan cerita dengan baik,” ucapnya.

Menjelang penayangan Ghosthing, Peter berharap film tersebut dapat memberikan pengalaman menonton yang menghibur melalui dinamika hubungan Alfian dan Maya. Ia juga menempatkan respons penonton sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan karya-karya berikutnya bersama Imperial Pictures.

Peter menambahkan, membangun kepercayaan penonton merupakan proses berkelanjutan yang menuntut kesungguhan dalam setiap produksi sekaligus keterbukaan terhadap kritik dan masukan.

“Kepercayaan penonton dibangun dari film ke film. Setiap karya perlu dikerjakan dengan sungguh-sungguh, lalu kami harus mau mendengar responsnya. Pengalaman itulah yang menjadi bekal untuk terus belajar dan menghasilkan karya berikutnya,” sambungnya.(E-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *