Pengamat: Persaingan Hidup dan Mobilitas Tinggi Picu Stres Masyarakat
Penyebab gangguan jiwa masyarakat.(Dok. RSUD Meuraxa)

PENGAMAT sosial dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis, mengungkapkan bahwa kepadatan populasi (population density) menjadi faktor utama pemicu gangguan kesehatan jiwa di Indonesia saat ini. Hal tersebut disampaikan Rissalwan menanggapi fenomena meningkatnya tekanan mental di tengah masyarakat, Selasa (13/10).

Menurut Rissalwan, kepadatan populasi secara langsung memicu persaingan yang semakin tinggi, terutama dalam aspek ekonomi dan pencarian sumber penghidupan. Kondisi ini menciptakan tekanan besar bagi individu, khususnya yang tinggal di kota-kota besar dengan mobilitas yang sangat padat.

“Persaingan ini dalam banyak hal, terutama ekonomi ya. Bagaimana kita mencari sumber penghidupan. Jadi persaingannya akan lebih ketat begitu dan terkait dengan itu juga mobilitas orang,” ungkap Rissalwan kepada Media Indonesia.

Ia menjelaskan terdapat dua jenis mobilitas yang memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Pertama, mobilitas horizontal yang berkaitan dengan pergerakan fisik seperti kemacetan jalanan atau keterlambatan transportasi. Kedua, mobilitas vertikal yang melibatkan persaingan untuk meningkatkan taraf hidup, karier, dan status sosial.

“Ini kan stressful ya, membuat orang tegang dan akibatnya gangguan tidur juga terjadi karena harus bekerja keras,” tegasnya. Tekanan untuk terus bersaing secara vertikal dinilai menjadi awal mula munculnya gangguan kesehatan mental.

Selain faktor kepadatan, era digital turut memperparah kondisi kesehatan jiwa. Rissalwan menyoroti budaya flexing atau pamer di media sosial yang membuat individu cenderung membandingkan diri dengan orang lain. Informasi yang masuk ke ranah privat melalui ponsel memicu perasaan tidak mampu dan stres tambahan.

Dampak akumulatif dari tekanan populasi dan kecemasan digital ini adalah melonggarnya ikatan sosial. Rissalwan menyebut dukungan sosial dari keluarga maupun pertemanan kini semakin melemah, sehingga individu kehilangan sistem pendukung saat menghadapi tekanan hidup.

“Jadi kalau kita urut, tekanan populasi, kemudian harus bersaing, membandingkan diri karena faktor media sosial, dan yang ketiga adalah kurangnya dukungan sosial dari orang-orang terdekat,” pungkasnya. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *