Kakek-Nenek Terlalu Ikut Campur Urusan Anak? Mengenal Fenomena Helicopter Grandparents
Ilustrasi(Magnific)

ISTILAH helicopter parenting, yakni pola pengasuhan orangtua yang terlalu protektif, mengontrol, dan selalu “mengintai” setiap gerak-gerik anak, sudah cukup populer di kalangan masyarakat. Namun, fenomena serupa kini mulai banyak ditemui pada generasi yang lebih tua, yang dikenal dengan sebutan helicopter grandparents (kakek-nenek helikopter).

Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana kakek atau nenek menunjukkan keterlibatan berlebihan dalam kehidupan cucu mereka, hingga sering kali melangkahi batasan serta keputusan pengasuhan yang telah ditetapkan oleh orangtua kandung sang anak.

Tanda-Tanda Kakek-Nenek Terlalu Mengintervensi

Meskipun perilaku ini umumnya didasari rasa kasih sayang dan niat untuk membantu, intervensi yang terlalu jauh justru dapat memicu ketegangan dalam dinamika keluarga. Beberapa tanda umum dari fenomena helicopter grandparenting antara lain:

  • Mencoba Mengambil Alih Peran Orangtua: Kakek atau nenek kerap bertindak cepat untuk menenangkan atau menangani anak sebelum orangtua kandungnya sempat merespons situasi tersebut.
  • Mempertanyakan Keputusan Pengasuhan: Mengkritik atau mempertanyakan aturan yang dibuat orang tua secara terbuka di hadapan cucu, seperti batasan waktu layar (screen time), pola tidur, hingga menu makanan.
  • Melanggar Batasan dan Aturan Rumah: Membiarkan cucu melanggar aturan harian yang disepakati dengan dalih “memanjakan” atau merasa lebih berpengalaman dalam mengasuh anak.
  • Menuntut Informasi Berlebihan: Meminta pembaruan kabar, foto, atau panggilan video secara terus-menerus hingga menimbulkan rasa tertekan bagi orangtua muda.
  • Bersikap Defensif Saat Ditegur: Menunjukkan reaksi emosional atau merasa tersakiti ketika orang tua berusaha menegakkan batasan (boundaries) dalam pengasuhan anak.

Faktor Pendorong Perilaku Kakek-Nenek

Para psikolog dan ahli hubungan keluarga mencatat bahwa perilaku ini sering dikendalikan oleh faktor emosional yang kompleks. Salah satunya adalah kecemasan mendalam terhadap keselamatan atau kesejahteraan cucu, terutama jika kakek-nenek membesarkan anak di era yang berbeda.

Selain itu, adanya rasa takut kehilangan peran (fear of irrelevance) dalam keluarga besar yang baru, rasa bersalah atas pola pengasuhan mereka di masa lalu yang ingin “diperbaiki” pada masa cucu, serta perbedaan pandangan antargenerasi mengenai disiplin anak turut menjadi pemicu utama timbulnya gesekan ini.

Cara Menyikapi Kakek-Nenek yang Terlalu Dominan

Untuk menjaga keharmonisan keluarga tanpa merusak hubungan antara anak dan kakek-neneknya, orang tua disarankan untuk mengambil langkah komunikasi yang tegas namun tetap santun:

  • Tetapkan Batasan Secara Jelas dan Kompak: Pasangan suami istri harus menyatukan pandangan terlebih dahulu sebelum menyampaikan aturan pengasuhan keluarga secara terbuka kepada kakek dan nenek.
  • Berikan Peran Spesifik: Alihkan keinginan berkontribusi kakek-nenek pada area tertentu yang aman dan menyenangkan, misalnya mengajak berjalan-jalan di akhir pekan atau membaca buku bersama.
  • Sampaikan Apresiasi: Tegaskan bahwa perhatian dan kasih sayang mereka sangat berarti bagi cucu, namun keputusan utama mengenai aturan hidup anak tetap berada di tangan orangtua.

(Parents/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *