Imam Melbourne Australia Bantah Kaitan dengan Tersangka Pembajak Flydubai
Pesawat Flydubai.(Youtube Flydubai)

SEORANG imam asal Melbourne, Australia, membantah keras tuduhan jaksa Emirat Arab yang mengaitkan pusat komunitas Islam miliknya dengan seorang kopilot maskapai Flydubai yang diduga melakukan upaya pembajakan. Pemimpin tersebut menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bertemu dengan pria yang dimaksud dan selalu menyuarakan pesan perdamaian.

Kopilot asal Oman, yang saat ini berada dalam tahanan otoritas Emirat, diduga terinspirasi oleh serangan teror 11 September 2001. Menurut temuan jaksa Emirat yang dipublikasikan media pemerintah pekan lalu, tersangka melakukan aksinya dengan tujuan menyebabkan hilangnya nyawa dalam jumlah besar.

Jaksa menyebutkan bahwa kopilot tersebut mulai teradikalisasi saat menempuh studi di Australia. Ia diduga terpapar literatur ekstremis dan konten daring yang mengagungkan organisasi teroris serta aksi bom bunuh diri. Jaksa juga menuduh tersangka memiliki hubungan dengan organisasi bernama My Centre yang dikelola oleh pria asal Libanon bernama Abu Hamza.

Bantahan Abu Hamza

Meskipun namanya disebut dalam laporan jaksa, baik My Centre maupun Abu Hamza tidak didakwa atas pelanggaran kriminal apa pun. Dalam pernyataan di media sosial pada Senin (12/10) malam, Abu Hamza–yang juga dikenal dengan nama Samir Mohtadi–menegaskan bahwa dirinya tidak mengenal kopilot yang diidentifikasi sebagai Hamam al-Hammami tersebut.

“Kami tidak memiliki catatan bahwa dia pernah menghadiri pusat kegiatan kami,” ujar Abu Hamza. Ia juga menyayangkan sikap otoritas terkait yang tidak melakukan verifikasi kepadanya sebelum merilis informasi tersebut ke publik.

Ia menambahkan bahwa sepanjang hidupnya, ia secara konsisten mengkhotbahkan perdamaian. “Kami menolak keras segala bentuk kekerasan tanpa pengecualian,” tegasnya.

Penyelidikan Lintas Negara

Kepolisian dan dinas intelijen Australia menyatakan tengah menyelidiki rekam jejak dan hubungan kopilot tersebut selama berada di Negeri Kanguru. Penyelidikan ini bertujuan memetakan jaringan atau pengaruh radikal yang mungkin pernah bersinggungan dengan tersangka.

Selain di Australia, kepolisian Selandia Baru melaporkan bahwa tersangka pernah menghabiskan waktu di negara tersebut dengan visa pelajar selama enam bulan. Berdasarkan laporan penyiar nasional RNZ, di Selandia Baru pulalah tersangka menyelesaikan sebagian dari pelatihan penerbangannya. (AFP/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *