Pemerintah Tangani Karhutla 639 Hektare di Enam Provinsi Prioritas
Foto udara suasana kawasan Pasar Jambi saat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Jambi, Jambi, Sabtu (10/10/2026).(Antara/Wahdi Septiawan)

PEMERINTAH terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini mencakup area seluas 639,23 hektare di enam provinsi prioritas. Berdasarkan laporan terbaru, titik api di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, menjadi penyumbang terbesar dalam proses pemadaman yang tengah berlangsung.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan bahwa enam provinsi prioritas lahan gambut yang menjadi fokus utama ialah Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

“Untuk hari ini yang terbakar, yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya 639,23 hektare, yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah,” ujar Suharyanto dalam rapat koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto secara hibrida dari Istana Merdeka, Selasa (13/10).

Titik Api Baru di Taman Nasional Tanjung Puting

Lonjakan luas kebakaran di Kalimantan Tengah dipicu oleh temuan titik api baru di kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting yang meliputi wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Di lokasi tersebut saja, luas lahan yang terbakar mencapai 513,89 hektare.

Pemerintah menerapkan strategi pemadaman terpadu melalui jalur darat dan udara. Helikopter pengeboman air (water bombing) tetap dikerahkan untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses oleh petugas darat, seperti di Taman Nasional Way Kambas, Tanjung Puting, hingga Halmahera Timur di Maluku Utara.

Kendala Cuaca dan Operasi Udara

Meski armada udara telah disiapkan, operasional di lapangan tidak tanpa hambatan. Di Kalimantan Tengah, helikopter water bombing sempat terkendala cuaca buruk dan jarak pandang yang terbatas, sehingga pemadaman sementara dialihkan secara maksimal melalui operasi darat.

Sebaliknya, operasi udara di Sumatra Selatan baru dapat dimulai pada Senin. BNPB berencana memperkuat penanganan di wilayah ini dengan menambah armada pesawat yang dipadukan dengan operasi modifikasi cuaca (OMC).

“Kalimantan Tengah menggunakan empat pesawat dan Sumatra Selatan menggunakan dua pesawat dari Pangkal Pinang,” jelas Suharyanto mengenai distribusi armada udara saat ini.

Menanti Hujan Alami

Pemerintah juga terus memantau prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hujan alami diprediksi mulai turun secara konsisten pada pertengahan Oktober hingga November, yang diharapkan dapat membantu memadamkan sisa-sisa api secara total.

Suharyanto menegaskan bahwa satgas tidak akan mengendurkan kesiapsiagaan sebelum musim hujan benar-benar tiba. “Sebelum itu kami siap untuk bekerja keras mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki untuk mengendalikan karhutla,” pungkasnya. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *