
PERKEMBANGAN teknologi estetika mendorong pendekatan perawatan kulit yang lebih personal sesuai kebutuhan individu. Selain memperbaiki penampilan, perawatan kini juga berorientasi pada pemeliharaan hidrasi, elastisitas, dan kualitas kulit dalam jangka panjang, sejalan dengan konsep skin longevity yang menekankan pentingnya menjaga kualitas kulit seiring bertambahnya usia.
Salah satu teknologi yang digunakan dalam perawatan estetika adalah injectable skin booster, yakni perawatan melalui penyuntikan formulasi tertentu untuk membantu meningkatkan kualitas kulit sesuai indikasi produk.
Seiring berkembangnya teknologi tersebut, pemilihan perawatan tidak cukup hanya mempertimbangkan tren atau jenis bahan aktif yang digunakan. Kondisi kulit, formulasi produk, teknologi penghantaran bahan aktif, serta evaluasi tenaga medis juga menjadi pertimbangan penting.
Pendekatan ini turut diusung Cellbooster, produk injectable skin booster asal Swiss yang dikembangkan Suisselle. Produk tersebut menggunakan teknologi berpaten CHAC (CHAC Technology) yang dirancang untuk menjaga stabilitas bahan aktif dalam formulasi serta memungkinkan pelepasannya secara bertahap.
Director of STI selaku distributor Cellbooster di Indonesia, Moses Yang, mengatakan perkembangan industri estetika perlu diikuti dengan pemilihan perawatan yang semakin tepat berdasarkan kebutuhan tiap individu.
“Di tengah semakin banyaknya pilihan injectable, kami percaya masa depan estetika bukan tentang menghadirkan lebih banyak treatment, tetapi menghadirkan treatment yang lebih tepat. Melalui Cellbooster dengan patented CHAC Technology, kami membawa inovasi yang memungkinkan bahan aktif dilepaskan secara bertahap untuk mendukung kualitas kulit secara lebih optimal,” ujar Moses dalam keterangannya, Oktober 2026.
Menurut perusahaan, teknologi CHAC dikembangkan untuk membantu menjaga stabilitas kompleks bahan aktif sekaligus mengatur pelepasannya setelah diaplikasikan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan formulasi yang berorientasi pada peningkatan kualitas kulit. Cellbooster juga telah memperoleh izin edar dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku bagi kategori produknya.
Dalam penerapannya, kebutuhan perawatan kulit dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk usia, paparan sinar matahari, kondisi lingkungan, serta gaya hidup. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, sejumlah permasalahan yang sering menjadi perhatian dalam perawatan estetika meliputi hiperpigmentasi, warna kulit tidak merata, berkurangnya kelembapan, perubahan tekstur, dan penurunan elastisitas kulit.
Meski demikian, karakteristik kulit masyarakat Asia tidak dapat digeneralisasi. Setiap individu tetap memerlukan evaluasi untuk menentukan jenis perawatan yang sesuai.
Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, Cellbooster memiliki tiga varian formulasi, yakni Glow, Lift, dan Shape. Varian Glow difokuskan pada kebutuhan hidrasi, kecerahan, dan perbaikan tampilan kualitas kulit, terutama untuk kondisi kulit kusam dan kehilangan kelembapan.
Sementara itu, Lift dikembangkan dengan fokus pada elastisitas, kekencangan, serta kualitas kulit yang mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
Adapun Shape ditujukan untuk kebutuhan perawatan tertentu yang berkaitan dengan tampilan kontur dan kualitas jaringan kulit sesuai indikasi produk. Pemilihan ketiga varian tersebut perlu mempertimbangkan kondisi kulit, tujuan perawatan, serta hasil pemeriksaan tenaga medis.
Moses menjelaskan, pendekatan personalisasi juga berkaitan dengan konsep skin longevity, yakni upaya mempertahankan kualitas kulit melalui perawatan yang terarah dan berkelanjutan.
“Bagi kami, Cellbooster selalu kami komunikasikan sebagai produk yang Precision by Design. Ini adalah makna sebenarnya, ketika teknologi dan formulasi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan kulit yang berbeda, sekaligus mendukung pendekatan skin longevity,” katanya.
Menurut dia, perkembangan kedokteran estetika tidak hanya berfokus pada pengurangan tanda-tanda penuaan, tetapi juga memperhatikan pemeliharaan hidrasi, elastisitas, dan kemampuan regenerasi kulit dalam jangka panjang.
Dalam praktiknya, perawatan estetika berbasis injeksi tetap memerlukan pertimbangan medis, termasuk penilaian indikasi, kontraindikasi, potensi efek samping, serta kesesuaian tindakan dengan kondisi pasien.
Pentingnya evaluasi tersebut juga menjadi perhatian dalam kolaborasi Cellbooster dengan Erha sebagai mitra medis melalui kegiatan Cellbooster Exclusive Experience. Dalam kegiatan tersebut, peserta terlebih dahulu menjalani konsultasi dan analisis kondisi kulit bersama dokter sebelum menentukan perawatan yang sesuai.
Dokter Erha turut mendampingi pelaksanaan tindakan selama rangkaian kegiatan sebagai bagian dari pendekatan yang mengutamakan evaluasi profesional. GM Marketing Erha Clinic Group, Alisa Agustine, mengatakan personalisasi menjadi bagian penting dalam pelayanan estetika karena setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda.
“Bagi Erha, personalisasi merupakan bagian penting dalam perjalanan perawatan kulit karena setiap individu datang dengan kondisi, concern, dan kebutuhan yang berbeda,” ujar Alisa.
Ia menjelaskan, kolaborasi antara tenaga medis dan pengembang teknologi diperlukan agar inovasi estetika dapat diterapkan sesuai kebutuhan pasien. Melalui semangat Pro to Pro Connection, Erha berupaya mempertemukan keahlian medis dengan perkembangan teknologi untuk mendukung pemilihan perawatan yang lebih terarah.
Menurut Alisa, dukungan terhadap Cellbooster Experience menjadi salah satu bentuk kolaborasi tersebut, dengan menempatkan konsultasi dan analisis kondisi kulit sebagai bagian dari proses penentuan tindakan.
Pendekatan personalisasi diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih selektif dalam memilih prosedur estetika, tidak semata-mata berdasarkan popularitas suatu perawatan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan kulit, keamanan, serta rekomendasi tenaga medis yang kompeten. (E-1)
