Berkah El Nino, Nelayan Cilacap Panen Ubur-ubur hingga 2 Ton Sekali Melaut
Nelayan pesisir Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menikmati musim panen ubur-ubur yang melimpah sejak Agustus 2026.(Dok. MI/Lilik Dharmawan)

NELAYAN di pesisir Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tengah menikmati berkah dari fenomena alam El Nino. Musim kemarau yang panjang justru membawa kelimpahan ubur-ubur di perairan selatan Jawa sejak Agustus 2026. Hingga awal Oktober, hasil tangkapan nelayan dilaporkan masih sangat tinggi, di mana satu perahu mampu membawa pulang hingga 2 ton ubur-ubur dalam sekali melaut.

Kelimpahan ini menjadi angin segar bagi para nelayan di tengah ketidakpastian hasil tangkapan ikan. Dengan harga jual ubur-ubur segar di tingkat nelayan sekitar Rp800 per kilogram (kg), mereka berpeluang meraup pendapatan kotor hingga Rp1,6 juta dari hasil tangkapan dua ton tersebut.

Musim Panen Terlama dan Melimpah

Kasno, seorang nelayan asal Tegalkatilayu, mengungkapkan bahwa musim panen ubur-ubur tahun ini sudah berlangsung hampir dua bulan. “Sejak Agustus 2026 lalu sampai sekarang masih musim panen ubur-ubur yang melimpah. Hingga Oktober, hasil tangkapan masih cukup banyak,” ujar Kasno, Sabtu (10/10).

Aktivitas melaut biasanya dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Para nelayan hanya perlu menempuh jarak sekitar 1 hingga 2 kilometer dari garis pantai untuk menemukan kawanan ubur-ubur. Dalam waktu singkat, sekitar tiga jam, perahu nelayan sudah penuh terisi.

Untuk menjaga kualitas tangkapan, nelayan menggunakan wadah kotak kayu khusus yang dipasang di bagian tengah perahu. Wadah ini berfungsi menampung ubur-ubur selama perjalanan kembali ke daratan sebelum disetorkan ke pengepul.

Target Pengolahan Capai 80 Ton per Hari

Supri, salah satu pengepul di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, mengonfirmasi bahwa hasil tangkapan tahun ini sangat memuaskan. Di kawasan tersebut, terdapat sekitar 10 lapak penerimaan yang melayani sekitar 500 nelayan.

“Sampai dengan saat ini musim panen masih berlangsung dan kami bersyukur hasilnya juga bagus,” kata Supri. Ia menambahkan bahwa setiap lapak rata-rata melayani hingga 50 perahu. Secara keseluruhan, target pengolahan ubur-ubur di kawasan tersebut mencapai 50 hingga 80 ton per hari, dengan kapasitas tampung pribadinya mencapai 50 ton setiap hari.

Rekor Baru dan Potensi Ekspor

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Indarto, menyebutkan bahwa fenomena ini kemungkinan besar akan memecahkan rekor dalam lima tahun terakhir. Menurut catatannya, kemunculan ubur-ubur tidak terjadi setiap tahun, bahkan dalam lima tahun terakhir ada dua tahun di mana nelayan sama sekali tidak mendapatkan tangkapan ubur-ubur.

“Tahun ini kemungkinan menjadi rekor, baik dari jumlah ubur-ubur yang tertangkap maupun lamanya kemunculan,” jelas Indarto. Ia menduga curah hujan yang rendah dan musim kemarau yang lebih panjang akibat El Nino memengaruhi migrasi atau populasi ubur-ubur di perairan Cilacap.

Ubur-ubur hasil tangkapan nelayan Cilacap ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena menjadi komoditas ekspor, terutama ke pasar China. Produk yang dipasarkan umumnya berupa salted jellyfish atau ubur-ubur yang telah melalui proses pengolahan menggunakan garam untuk konsumsi pangan. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *