Kemenhut Perkuat Operasi Karhutla di Kalteng dan Waspadai Sumsel
Karhutla di Kalteng.(Dok. Antara)

KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemantauan intensif, verifikasi lapangan, serta operasi darat dan udara. Perhatian utama saat ini diarahkan ke Provinsi Kalimantan Tengah yang mencatat peningkatan titik panas (hotspot) cukup signifikan berdasarkan pemantauan terbaru.

Berdasarkan data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) hingga Sabtu (10/10) pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 793 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Data ini dihimpun melalui satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.

“Jumlah tersebut meningkat 356 titik dibandingkan Jumat (9/10) yang mencatat 437 hotspot,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, dalam keterangannya, Minggu (11/10).

Data Hotspot di Provinsi Prioritas

Peningkatan sebaran titik panas terkonsentrasi di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Berikut rincian perkembangan hotspot high confidence:

  • Kalimantan Tengah: 288 titik (meningkat dari 122 titik)
  • Sumatra Selatan: 60 titik (turun dari 107 titik)
  • Kalimantan Barat: 44 titik (meningkat dari 13 titik)
  • Kalimantan Selatan: 28 titik (meningkat dari 13 titik)
  • Jambi: 1 titik (turun dari 15 titik)
  • Riau: Nihil

Ristianto menjelaskan bahwa Kalimantan Tengah menyumbang lebih dari separuh total hotspot di provinsi prioritas. Meski Sumatra Selatan menunjukkan tren penurunan, kewaspadaan tetap dipertahankan mengingat kondisi cuaca dan kekeringan yang masih berpotensi memicu kebakaran baru.

Verifikasi Lapangan dan Operasi Terpadu

Kemenhut menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tidak selalu mencerminkan jumlah kejadian kebakaran atau luas areal yang terbakar. Oleh karena itu, setiap indikasi wajib diverifikasi melalui groundcheck untuk menentukan tindakan penanganan yang tepat.

Dalam operasi ini, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, yang terdiri dari 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk operasi water bombing. Pengendalian dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, serta relawan dan dunia usaha.

Fokus utama pemadaman darat diarahkan pada kawasan gambut. Petugas melakukan pembasahan, mopping up, hingga pendinginan secara mendalam karena bara api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun api di atas permukaan sudah tidak terlihat.

Pantauan Kualitas Udara

Selain pemadaman, pemerintah memantau konsentrasi PM2,5 untuk melindungi kesehatan masyarakat. Saat ini, kualitas udara di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan telah masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan terdapat kantong kategori berbahaya di Kalimantan.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan selalu menggunakan masker. Perhatian khusus diminta diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan riwayat penyakit pernapasan kronis. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *