
HIND Rajab Foundation mengajukan pengaduan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap pejabat medis Israel terkait dugaan penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap tahanan Palestina, menurut laporan media Israel pada Sabtu (10/10), sebagaimana dikutip Anadolu.
Hind Rajab mengajukan pengaduan kepada ICC agar menyelidiki dugaan keterlibatan pejabat kesehatan, dokter, dan organisasi profesi medis Israel dalam penyiksaan serta perlakuan buruk terhadap tahanan Palestina di pusat penahanan militer Sde Teiman. Pengaduan itu menyoroti dugaan pelanggaran yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Yayasan yang berbasis di Brussel, Belgia, itu mengajukan pengaduan berdasarkan Pasal 15 Statuta Roma kepada jaksa ICC. Pengaduan tersebut meminta penyelidikan terhadap pejabat Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertahanan Israel, tenaga medis, pengelola rumah sakit, serta Asosiasi Medis Israel.
Yayasan itu menilai dugaan tindakan para pejabat dan tenaga medis tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pengaduan itu juga menyinggung dugaan keterlibatan mereka dalam kematian dan perlakuan buruk terhadap tahanan.
Sejumlah nama turut dicantumkan dalam pengaduan, antara lain mantan Menteri Kesehatan Moshe Arbel dan Uriel Buso, Ketua Asosiasi Medis Israel Zion Hagay, Direktur Jenderal Leah Wapner, serta Ketua Dewan Etik Yosef Walfisch.
Sde Teiman, pangkalan militer di Gurun Negev, Israel selatan, digunakan untuk menahan ribuan warga Palestina dari Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Yayasan Hind Rajab menyatakan sebagian besar tahanan merupakan warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, lansia, jurnalis, serta pekerja kesehatan dan kemanusiaan.
Pengaduan itu menyebut Kementerian Kesehatan Israel mendirikan fasilitas medis di Sde Teiman tidak lama setelah 7 Oktober 2023. Yayasan tersebut juga menyoroti instruksi tertanggal 19 Desember 2023 yang, menurut pengaduan, mewajibkan tenaga medis merawat tahanan dalam kondisi tangan diborgol dan mata ditutup.
Praktik tersebut dinilai membatasi perlindungan pasien dan menyulitkan penelusuran tanggung jawab individu. Pengaduan itu juga menyebut tenaga medis diduga diminta tidak mencantumkan nama mereka dan hanya menandatangani rekam medis dengan jabatan profesional.
Yayasan Hind Rajab turut mengutip kesaksian tenaga medis Israel dan mantan tahanan Palestina mengenai dugaan operasi tanpa penghilang rasa sakit yang memadai. Salah satu laporan menyebut dua tahanan harus menjalani amputasi kaki dalam rentang satu pekan akibat luka yang diduga disebabkan oleh pemborgolan. Yayasan itu menyatakan sedikitnya 29 tahanan meninggal di Sde Teiman hingga November 2025 akibat kekerasan fisik, kelalaian medis, atau keduanya.
Asosiasi Medis Israel juga dituduh tidak mengambil langkah investigasi yang memadai atas dugaan keterlibatan tenaga medis dalam perlakuan buruk tersebut. Yayasan itu menilai respons asosiasi hanya berupa pengingat umum tentang etika profesi.
“Alih-alih menyelidiki tuduhan tersebut, para pemimpin asosiasi justru secara terbuka membela perawatan medis yang diberikan di Sde Teiman,” kata yayasan itu dalam pernyataan yang dikutip Middle East Monitor. (B-3)
