
OTORITAS lokal Arab Saudi mengonfirmasi sedikitnya 12 orang tewas dan 309 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang menerjang Bandara Internasional King Khalid di ibu kota Riyadh. Insiden ini terjadi beberapa hari setelah kelompok Houthi dari Yaman mengklaim telah melakukan serangan serupa ke pusat penerbangan tersebut.
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi menyatakan bahwa korban tewas terdiri dari empat warga negara Arab Saudi dan dua warga negara Bangladesh. Selain itu, masing-masing satu warga negara dari Mesir, Yordania, Palestina, Sudan, Suriah, dan Amerika Serikat juga dilaporkan gugur dalam peristiwa tersebut.
Akibat insiden ini, seluruh aktivitas operasional di Bandara Internasional King Khalid dihentikan sementara. Semua penerbangan menuju Riyadh telah dialihkan atau dibatalkan berdasarkan pemantauan situs pelacak penerbangan Flightradar.
Saksi mata di terminal domestik menggambarkan situasi mencekam saat ledakan terjadi.
“Semua orang berlari,” ujar saksi mata yang melihat langsung area gerbang 401 dihantam proyektil dan menyaksikan para korban terluka di depan matanya.
Lebih dari selusin ambulans dikerahkan menuju lokasi kejadian. Pihak medis mengonfirmasi bahwa rumah sakit telah mengaktifkan status darurat utama untuk menangani ratusan korban luka.
Gelombang Serangan di Kawasan Arab Saudi
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang bertempur melawan Houthi mengonfirmasi bahwa sebuah proyektil juga jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, wilayah timur Arab Saudi.
Serangan terbaru ini terjadi hanya sehari setelah tiga warga Arab Saudi, termasuk seorang pilot, tewas dalam dua serangan Houthi di bandara tersebut. Sebelumnya, tiga orang lainnya juga dilaporkan tewas akibat serangan Houthi yang menyasar dua bandara di Arab Saudi pada 6 dan 7 Oktober.
Menanggapi situasi keamanan yang memburuk, Kedutaan Besar AS dan Kementerian Luar Negeri Inggris mengimbau warganya untuk menjauhi area bandara. Sejumlah maskapai penerbangan di kawasan Teluk, termasuk Kuwait Airways, mengumumkan pembatalan penerbangan dari dan menuju Riyadh akibat alasan keamanan.
Eskalasi Konflik Yaman dan Arab Saudi
Dugaan serangan ini menandai peningkatan eskalasi konflik antara pasukan pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi dengan kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman.
Kelompok Houthi menegaskan bahwa sasaran serangan mereka ke Arab Saudi merupakan bentuk balasan atas dukungan Riyadh terhadap pasukan pemerintah dalam perang saudara di Yaman. Escalasi memburuk setelah Houthi merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah, termasuk Pelabuhan Mokha di Selat Bab al-Mandab yang merupakan jalur vital pelayaran global.
Konflik yang telah berlangsung sejak koalisi pimpinan Arab Saudi dibentuk pada 2015 ini sempat mereda lewat gencatan senjata informal pada 2022. Namun, kesepakatan tersebut mulai runtuh sejak Juli lalu setelah Houthi mengumumkan “embargo maritim” terhadap Arab Saudi dan melancarkan serangan rudal serta drone ke fasilitas minyak, bandara, dan kapal tanker di Laut Merah. (BBC/Z-2)
