
KEMENTERIAN Transmigrasi berencana menggelar Festival Transmigrasi secara berkala di kawasan Tanjung Banon, Rempang, Batam, Kepulauan Riau. Tujuannya guna mendorong aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi kawasan transmigrasi kepada publik.
Menteri Transmigrasi (Mentrans), Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan festival tersebut akan menjadi salah satu upaya menggerakkan masyarakat melalui penciptaan aktivitas ekonomi.
“Insyaallah nanti tiap tahunan, bahkan mungkin tiap enam bulan kita buat acara-acara yang menarik di sini,” kata Iftitah saat menghadiri Festival Transmigrasi di kawasan Rempang Eco-City, Tanjung Banon, Sabtu (10/10).
Menurut dia, penyelenggaraan festival tidak hanya bertujuan menarik pengunjung, tetapi juga membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat. Iftitah berharap, meningkatnya kunjungan Festival Transmigrasi tersebur bisa memberikan efek berganda bagi perekonomian warga, mulai dari usaha kuliner, penyediaan tempat parkir, hingga kegiatan ekonomi lainnya.
Salah satu upaya yang tengah dikembangkan ialah pembangunan menara gardu pandang untuk menarik pengunjung menikmati panorama laut Tanjung Banon. Destinasi tersebut, sambung Iftitah, diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang selama ini berkunjung ke kawasan Jembatan Barelang untuk menikmati pemandangan laut.
Iftitah mengatakan, aktivitas pengunjung berpotensi mendorong tumbuhnya usaha masyarakat seiring meningkatnya kebutuhan terhadap berbagai layanan di kawasan wisata tersebut.
Pariwisata Bahari
Selain pariwisata, pemerintah juga mendorong pengembangan potensi perikanan dan pertanian untuk memperluas sumber pendapatan warga. Kementerian Transmigrasi telah memberikan bantuan 16 perahu yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan perikanan dan pariwisata bahari.
Pemerintah juga menyiapkan pengembangan desa nelayan dan mendukung aktivitas pasar ikan yang mulai tumbuh di kawasan tersebut. Di sektor pertanian, pengembangan komoditas kelapa dan peternakan turut dipertimbangkan sebagai kegiatan ekonomi produktif sebelum industri berskala besar berkembang.
Upaya tersebut sejalan dengan rekomendasi akademisi dari Technical University of Munich (TUM), Jerman, yang selama lebih dari satu minggu melakukan pengamatan di kawasan transmigrasi Rempang. Mereka memberikan sejumlah masukan, antara lain mengenai pengelolaan lahan, agroforestri, lingkungan, penguatan komunitas, dan pengembangan pariwisata bahari.
Iftitah menegaskan, pengembangan kawasan perlu diarahkan pada pemberdayaan masyarakat agar warga tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah. Bantuan sembako yang diberikan selama satu tahun, menurut dia, merupakan bagian dari masa transisi untuk mendukung masyarakat sebelum sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan terbentuk.
Pemerintah, lanjutnya, juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Batam terkait pemanfaatan lahan untuk pertanian. Masyarakat diharapkan memiliki pekerjaan dan pendapatan sehingga dapat merasakan manfaat dari perkembangan kawasan, termasuk ketika investasi dan industri mulai beroperasi.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad menyambut penyelenggaraan Festival Transmigrasi sebagai kesempatan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat sekaligus mengidentifikasi potensi kawasan melalui keterlibatan perguruan tinggi.
Ia mengatakan, sejumlah program pengembangan kawasan telah berjalan, di antaranya penghijauan dan pemberdayaan ekonomi warga melalui Kampung Nelayan Merah Putih serta bantuan bibit untuk mendukung kegiatan masyarakat.
Amsakar berharap Rempang dapat menjadi percontohan pengembangan kawasan transmigrasi secara nasional. Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat diperlukan agar potensi kawasan dapat dimanfaatkan secara optimal. (H-4)
