
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus meluas. Memasuki pekan kedua Oktober 2026, total areal yang terbakar di lahan mineral maupun gambut dilaporkan telah menembus angka 42.455 hektare.
Data tersebut dirilis oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi berdasarkan analisis spasial menggunakan Citra Satelit Sentinel 2 periode 6-8 Oktober 2026. Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, mengungkapkan bahwa api tidak hanya melahap lahan mineral, tetapi juga menyasar kawasan konservasi vital dan areal konsesi perusahaan.
Gambut Tanjung Jabung Timur Paling Terdampak
Berdasarkan data analisis GIS KKI Warsi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luas kebakaran mencapai 11.425 hektare. Wilayah ini didominasi oleh ekosistem gambut yang saat ini terus membara.
Rudi menjelaskan bahwa kebakaran di lahan gambut jauh lebih berbahaya dan sulit ditangani dibandingkan lahan mineral. “Ketika kondisi gambut mengering, api dapat merambat melalui lapisan organik di bawah permukaan tanah. Hal ini membuat api sulit dideteksi dan sangat susah dipadamkan,” kata Rudi dalam rilis tertulis, Jumat (9/10).
Secara keseluruhan, total lahan gambut yang terbakar di Jambi mencapai 10.768 hektare, dengan sebaran kedalaman yang bervariasi, di mana kedalaman 200-300 cm mencakup luasan terbesar yakni 8.719 hektare.
Kebakaran di Areal Konsesi dan Hutan Produksi
Analisis KKI Warsi juga menyoroti sebaran api di kawasan hutan produksi yang mencapai 13.505 hektare. Dari hasil tumpang susun (overlay) dengan peta perizinan, ditemukan bahwa api teridentifikasi berada di dalam areal konsesi 15 perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Selain itu, sekitar 4.000 hektare kebakaran terdeteksi di areal konsesi perkebunan kelapa sawit yang melibatkan 36 korporasi. Rudi mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai adanya aktivitas pihak lain di dalam konsesi, termasuk dugaan pembukaan lahan ilegal.
“Penanganan tidak boleh berhenti pada pemadaman. Perlu verifikasi lapangan untuk menelusuri penyebab kebakaran dan memastikan status penguasaan lahannya guna mencegah konflik tenurial di masa depan,” tegasnya.
Kondisi Terkini dan Upaya Pemadaman
Pelaksana Harian Dansatgas Karhutla Jambi, Brigjen TNI Nyamin, mengonfirmasi bahwa meski ada tren penurunan di beberapa titik, api masih menyala di sejumlah kawasan konservasi penting. Lokasi yang masih dipantau ketat meliputi:
- Tahura Orang Kayo Hitam (Perbatasan Muaro Jambi – Tanjung Jabung Timur)
- Tahura Senami (Kabupaten Batanghari)
- Taman Nasional Berbak Sembilang/TNBS (Desa Rantau Rasau Desa, Kecamatan Sadu)
| Kabupaten | Luas (Ha) |
|---|---|
| Tanjung Jabung Timur | 11.425 |
| Sarolangun | 7.694 |
| Tebo | 7.460 |
| Batanghari | 6.734 |
| Muaro Jambi | 4.102 |
| Tanjung Jabung Barat | 3.334 |
| Grand Total (Seluruh Jambi) | 42.455 |
Kebakaran ini juga mengancam fungsi ekologis hutan lindung dan taman nasional yang berperan sebagai penyimpan cadangan karbon dan habitat satwa dilindungi. Satgas Karhutla terus berupaya melakukan pemadaman darat maupun udara di titik-titik kritis yang masih menyala. (H-4)
