Defisit Melebar, Ekonom Sebut Akibat Percepatan Realisasi Belanja
defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 September 2026 mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB). Menurutnya, realisasi defisit tersebut masih sejalan dengan desain awal APBN atau on track.(MI/Usman Iskandar)

TIM Ekonomi Bank Danamon menyebut defisit fiskal Indonesia melebar menjadi Rp319 triliun (1,24% dari PDB) pada periode September 20206, naik dari Rp240 triliun (0,93%) bulan sebelumnya, namun tetap berada di bawah periode sama tahun lalu sebesar Rp372 triliun (1,56%). 

Adapun pendapatan negara tumbuh 25,5% secara tahunan (yoy) menjadi Rp2.342 triliun, sementara belanja meningkat 19,0% yoy menjadi Rp2.661 triliun.

“Pelebaran defisit secara bulanan ini mencerminkan percepatan realisasi belanja, bukan penurunan kinerja pendapatan,” kata Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz dalam keterangan yang diterima, Jumat (9/10).

Selanjutnya, realisasi penerimaan dinilai tetap kuat, meskipun lajunya tertinggal dibandingkan rata-rata historis. Penerimaan mencapai 74,2% dari target tahunan. Angka tersebut berada di bawah rata-rata historis periode sembilan bulan sebesar 77,3%.

Penerimaan pajak meningkat 24,1% secara tahunan menjadi Rp1.608 triliun. Irman menyebut hal itu mengindikasikan ketahanan kinerja penerimaan yang terus berlanjut.

“Kendati demikian, mempertahankan laju ini akan menjadi semakin menantang seiring memudarnya dampak basis yang menguntungkan serta kontribusi penerimaan yang bersifat tidak berulang (non-recurring),” jelasnya.

Sementara itu, realisasi belanja mengalami percepatan, dengan pengeluaran pemerintah mencapai 69,2% dari anggaran. Angka tersebut melampaui rata-rata historis periode sembilan bulan sebesar 65,9%.

Belanja pemerintah pusat, kata dia, meningkat 29,6% secara tahunan menjadi Rp2.061 triliun, didorong oleh belanja kementerian dan lembaga (+33,5% year-on-year), sementara transfer ke daerah mengalami kontraksi sebesar 7,1% year-on-year.

“Pelaksanaan program prioritas, pengadaan, dan pemenuhan kewajiban terkait energi yang lebih kuat mengindikasikan sikap fiskal yang lebih ekspansif, meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan bergantung pada komposisi dan waktu pencairan dana,” jelasnya.

Selisih pelaksanaan antara pendapatan dan belanja menyempit menjadi hanya 5,0 poin persentase, imbuhnya, dari 12,0 poin persentase pada periode sembilan bulan pertama tahun 2021 dan 18,3 poin persentase pada periode yang sama tahun 2023.

“Hal ini mengindikasikan bahwa realisasi belanja mulai mengejar realisasi pendapatan, yang turut berkontribusi pada defisit yang lebih besar,” kata Irman.

Sementara itu, pembiayaan anggaran mencapai Rp462 triliun (+0,4% secara tahunan/YoY), setara dengan 67% dari target tahunan, sedangkan keseimbangan primer tetap mencatatkan surplus sebesar Rp126 triliun.

Pihaknya memandang dukungan fiskal menguat pada kuartal ketiga tahun 2026. Namun besaran kontribusi puncaknya terhadap pertumbuhan masih belum dapat dipastikan.

“Percepatan pelaksanaan belanja diharapkan dapat menopang permintaan domestik, terutama melalui pengadaan pemerintah, program-program prioritas, dan transfer kepada rumah tangga,” ujar Irman.

Kendati demikian, lanjutnya, pencairan dana tidak serta-merta berdampak langsung secara proporsional terhadap PDB. Hal itu mengingat subsidi, kompensasi, dan transfer keuangan memiliki mekanisme transmisi serta dampak pengganda (multiplier) yang berbeda. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *