
MENYAMBUT datangnya musim hujan, para petani di Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mulai menanam padi ladang jenis beras merah. Penanaman ini dilakukan dengan cara unik melalui tradisi nugal yang merupakan kearifan lokal masyarakat setempat.
Nugal dalam bahasa Bangka berarti menanam padi secara bersama-sama atau bergotong royong menggunakan dua bilah kayu. Cara kerjanya sangat sederhana: kaum pria membuat lubang di tanah dengan kedua bilah kayu tersebut, sementara kaum wanita yang berada di belakang bertugas memasukkan benih padi ke dalam lubang-lubang itu.
Bupati Bangka, Fery Insani, mengatakan tradisi nugal padi ladang merupakan kearifan lokal yang masih terus dijaga dan lestari hingga saat ini.
“Nugal ini tradisi masyarakat desa kita yang menjadi kearifan lokal, dan masih lestari hingga saat ini,” ujar Fery saat ditemui, Jumat (9/10).
Ia menjelaskan, penanaman dengan cara nugal ini dilakukan menyambut datangnya musim hujan, berbeda dengan padi sawah yang harus menunggu curah hujan cukup tinggi. “Sudah mulai nugal, memang masih musim kemarau, inilah bedanya dengan padi sawah,” ujarnya.
Masyarakat melaksanakan kegiatan nugal ini secara gotong royong. Selesai menanam, seluruh warga yang terlibat akan makan bersama menggunakan beras merah hasil panen sebelumnya.
“Ini merupakan salah satu upaya menjaga ketahanan pangan di desa, kendati yang ditanam adalah beras merah,” imbuhnya.
Fery berharap tradisi nugal ini senantiasa terjaga dan tetap dilestarikan sebagai warisan kearifan lokal, khususnya bagi generasi masyarakat di kawasan pedesaan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka, Subhan, menyebutkan sejak awal Oktober hingga saat ini, puluhan hektar lahan sudah mulai ditanami padi ladang.
“Tidak serentak nugalnya, setiap desa beda-beda waktunya, tetapi semua sudah mulai memasuki masa penanaman ini,” kata Subhan.
Seperti yang terjadi di Desa Saing, luas lahan yang akan ditanami padi beras merah dengan tradisi nugal mencapai 60 hektare, dengan 70 hektare lahan lainnya yang sedang dalam persiapan.
“Rata-rata di desa ini ketahanan pangannya tidak perlu diragukan lagi, khususnya ketersediaan beras merahnya,” ucap Subhan. (RF/P-2)
