Krisis Air Bersih di Manggarai Timur NTT Meluas, 140 Keluarga Terdampak
Sebanyak 140 keluarga di Kabupaten Manggarai Timur, NTT, mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang.(MI/Marianus)

KRISIS air bersih membelit warga Desa Sisir, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama empat bulan terakhir, sumur-sumur warga mengering. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat terpaksa bangun sejak dini hari, mengantre berjam-jam, bahkan menempuh perjalanan hingga tiga kilometer menuju sumber air yang masih tersedia.

Lebih dari 140 keluarga terdampak. Di tengah keterbatasan itu, warga harus mengorbankan waktu istirahat, tenaga, dan pengeluaran rumah tangga demi mendapatkan kebutuhan dasar yang semestinya tersedia setiap hari.

Herry Narendra, warga Desa Sisir, mengungkapkan kesulitan air telah berlangsung selama empat bulan. Sumur-sumur di sekitar permukiman mengering, sedangkan sumber air yang masih tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat.

“Sudah empat bulan kami kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur-sumur warga sudah mengering. Kami terpaksa bangun dini hari untuk mengantre di sumber air yang masih ada. Kalau terlambat, kami khawatir tidak mendapatkan air yang cukup untuk kebutuhan keluarga,” jelasnya, Jumat (9/10).

Ia menjelaskan sumber air di Nuling menjadi salah satu tumpuan masyarakat. Namun, debit air yang terbatas membuat warga harus bergantian mengisi jeriken dan ember. Sebagian warga mulai mencari air sekitar pukul 03.00 Wita. Dalam kondisi tertentu, ada pula yang harus mengantre sejak pukul 01.00 hingga 02.00 dini hari.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat berubah menjadi kesempatan mendapatkan air. Warga harus mengatur kegiatan sehari-hari berdasarkan ketersediaan air.

Menempuh tiga kilometer demi air

Kesulitan warga semakin berat karena jarak sumber air. Sebagian masyarakat harus berjalan kaki sejauh satu hingga tiga kilometer. Warga yang menggunakan sepeda motor juga harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp10.000 per jeriken untuk mengangkut air.

Pengeluaran tersebut menambah beban rumah tangga, terutama bagi keluarga yang membutuhkan air untuk memasak, minum, mandi, mencuci, dan keperluan lain.

“Kalau mau mendapatkan air, kami harus berjalan cukup jauh atau mengeluarkan uang untuk mengangkutnya dengan sepeda motor. Padahal, air dibutuhkan setiap hari. Pengeluaran ini menjadi beban tambahan bagi keluarga kami,” kata Herry.

Menurut Herry krisis ini bukan hanya menyangkut ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga kemampuan ekonomi masyarakat untuk mengaksesnya. Uang yang semestinya digunakan untuk kebutuhan pangan dan keperluan keluarga lainnya harus dialihkan untuk mendapatkan air. Waktu produktif warga pun tersita untuk mengantre dan mengangkut jeriken.

Bagi keluarga dengan anak-anak dan anggota keluarga lanjut usia, keterbatasan air turut menyulitkan pemenuhan kebutuhan kebersihan sehari-hari. Ketika air tidak tersedia dalam jumlah cukup, kegiatan dasar seperti mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan peralatan makan menjadi lebih sulit dilakukan.

Kualitas air ikut dikeluhkan

Selain jumlahnya terbatas, kualitas air juga menjadi persoalan. Warga mengeluhkan air dari sumber yang masih tersedia terkadang berbau dan kotor. Situasi tersebut membuat masyarakat menghadapi persoalan ganda: memperoleh air dalam jumlah cukup sekaligus memastikan air yang digunakan aman.

“Kadang-kadang air yang kami dapatkan berbau dan kotor. Namun, kami tetap berusaha mendapatkannya karena kebutuhan air tidak bisa ditunda. Kami berharap pemerintah menyediakan sumber air yang lebih baik dan memastikan airnya aman digunakan,” ungkap Nikodemus, warga lain Sisir.

Keluhan itu membutuhkan tindak lanjut melalui pemeriksaan kualitas air oleh instansi berwenang. Air yang terlihat jernih belum tentu aman untuk diminum. Karena itu, penyediaan air bersih perlu disertai pengujian kualitas dan edukasi mengenai pengolahan air yang tepat.

Pemerintah siapkan sumur bor

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menyatakan akan mengupayakan pembangunan sumur bor sebagai salah satu solusi untuk mengatasi krisis air bersih di Desa Sisir.

Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Vinsensius Tala, menyampaikan keprihatinan atas kondisi masyarakat dan menyatakan pemerintah daerah akan mengupayakan pembangunan sumur bor sesuai kebutuhan warga.

Pernyataan tersebut menjadi dasar harapan masyarakat untuk memperoleh akses air bersih yang lebih dekat dan berkelanjutan. Namun, warga masih membutuhkan kepastian mengenai pelaksanaan pembangunan, lokasi sumur, dan waktu sarana tersebut dapat dimanfaatkan.

“Pembangunan sumur bor perlu didahului kajian teknis mengenai potensi air tanah, debit sumber, kualitas air, serta kemampuan sarana memenuhi kebutuhan lebih dari 140 keluarga. Pemerintah juga perlu memastikan sumber air dapat diakses secara adil dan dikelola secara berkelanjutan,” jelas Vinsensius.

Visensius menegaskan selama sarana permanen belum tersedia, pemerintah daerah dapat mempertimbangkan penyaluran air bersih secara berkala untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak warga.

Warga menanti solusi berkelanjutan

Kesulitan air di Desa Sisir disebut bukan persoalan baru. Warga mengungkapkan kondisi serupa berulang, terutama ketika musim kemarau berlangsung panjang. Situasi tersebut menunjukkan perlunya penanganan yang melampaui respons darurat setiap kali sumur mengering.

“Kami berharap rencana pembangunan sumur bor segera direalisasikan. Kami tidak ingin setiap musim kemarau kembali mengalami kesulitan yang sama. Kami membutuhkan air bersih yang dekat, layak digunakan, dan tersedia setiap hari,” ungkap Nikodemus.

Nikodemus menegaskan masyarakat membutuhkan kepastian bahwa rencana pembangunan sumur bor benar-benar ditindaklanjuti. Pemerintah daerah juga perlu menjelaskan tahapan pekerjaan, sumber pembiayaan, target penyelesaian, dan mekanisme pengelolaan sarana setelah dibangun. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *