
MARK Zuckerberg tengah menikmati momen kemenangan di Washington DC. CEO Meta tersebut menjadi tokoh sentral dalam pertemuan kecerdasan buatan (AI) di Gedung Putih bulan lalu saat para pemimpin perusahaan teknologi global menandatangani dokumen yang ia susun mengenai pengawasan mandiri risiko keamanan AI. Zuckerberg menyebut kesepakatan tersebut sebagai peristiwa bersejarah.
Keberhasilan itu menandai kembalinya pengaruh Zuckerberg di lingkaran kekuasaan Amerika Serikat, pencapaian yang diraih melalui pendekatan strategis terhadap Presiden Donald Trump. Hubungan ini sangat kontras dengan masa lalu, ketika Trump pernah mengancam akan memenjarakan Zuckerberg seumur hidup pascakerusuhan Capitol 6 Januari 2021.
Transformasi sang Bunglon Politik
Zuckerberg kini dijuluki sebagai bunglon politik karena kemampuannya memperbaiki hubungan yang retak dengan Partai Republik. Langkah ini diambil setelah ia menyadari pengaruh besar yang didapat Elon Musk setelah mendukung Trump secara terbuka.
Zuckerberg mulai mengubah citranya, dari seorang pendatang baru ber-hoodie menjadi miliarder berotot yang gemar jiu-jitsu. Perubahan fisik ini kabarnya diapresiasi oleh Trump.
Upaya Meta untuk merangkul kubu konservatif dilakukan secara sistematis, antara lain:
- Donasi Besar: Meta menyumbangkan US$1 juta untuk pelantikan Trump dan menjadi salah satu pendana awal proyek ruang dansa Gedung Putih.
- Penyelesaian Hukum: Meta setuju membayar sekitar US$25 juta (sekitar Rp392 miliar) untuk menyelesaikan gugatan Trump terkait penangguhan akunnya dengan dana yang dialokasikan untuk perpustakaan kepresidenan Trump di masa depan.
- Perekrutan Strategis: Zuckerberg menunjuk Joel Kaplan, operatif lama Republik, sebagai utusan utama di Washington dan mempekerjakan mantan pejabat senior Trump, Dina Powell McCormick, sebagai Presiden Meta.
Memenangkan Pertempuran Regulasi AI
Kedekatan ini membuahkan hasil nyata bagi kepentingan bisnis Meta. Zuckerberg berhasil meyakinkan Trump untuk menolak usulan pembentukan lembaga regulator AI independen yang diajukan oleh pesaingnya, seperti Google. Sebaliknya, ia mendorong kesepakatan yang bersifat mengikat secara moral tetapi tanpa taring hukum yang kuat.
Bersama CEO Nvidia, Jensen Huang, Zuckerberg menyusun draf kesepakatan keamanan AI yang memungkinkan industri untuk menerapkan standar mereka sendiri. Pendekatan akselerasionis ini sejalan dengan pandangan Trump yang menginginkan pengembangan AI yang cepat tanpa hambatan birokrasi yang ketat.
Risiko Politik di Masa Depan
Meski saat ini berada di posisi menguntungkan, strategi Zuckerberg bukan tanpa risiko. Di internal lingkaran Trump, masih ada skeptisisme mendalam yang menganggap langkah Zuckerberg hanyalah oportunisme politik semata. Beberapa sekutu lama Trump bahkan meragukan ketulusan transformasi sang CEO Meta.
Di sisi lain, kedekatan dengan Republik memicu reaksi keras dari Partai Demokrat. Senator Elizabeth Warren meluncurkan penyelidikan terhadap Meta, menuduh perusahaan tersebut menghabiskan dana besar hanya untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari administrasi Trump. Jika peta politik berubah pada pemilu mendatang, investasi politik Zuckerberg ini bisa menjadi bumerang bagi masa depan Meta di Capitol Hill (CNN/I-2)
