
PSIKOLOG klinis dewasa, Miki Amrilya Wardati mengungkapkan bahwa proses menjalankan tugas perkembangan di setiap tahapan usia berpotensi memicu permasalahan kesehatan mental.
“Dalam prosesnya ketika menjalankan tugas perkembangan secara psikologis itu, di situlah mulai ada tantangan-tantangan atau mungkin hambatan yang akhirnya berpotensi memunculkan permasalahan psikologis,” ujar Miki dalam sebuah temu media di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Memahami Pemicu Kecemasan dan Depresi
Miki menjelaskan bahwa gangguan kecemasan sering kali bersumber dari ketakutan berlebih yang tidak rasional. Hal ini bisa muncul terhadap sesuatu yang belum terjadi, atau respons berlebihan terhadap kondisi yang sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan.
Sementara itu, depresi berkaitan erat dengan permasalahan pada aspek afek atau perasaan. Miki menyebutkan bahwa kehilangan orang yang signifikan atau konflik dengan orang terdekat sering menjadi pemicu utama seseorang mengalami gejala depresi.
Tugas perkembangan yang dimaksud mencakup berbagai aspek kehidupan, antara lain:
- Masa Anak-anak: Fokus pada tugas sekolah, kemandirian dasar, dan pengembangan interaksi sosial.
- Masa Dewasa: Tuntutan kemandirian finansial, produktivitas kerja, hingga membangun relasi serius seperti pernikahan.
Menurut Miki, masalah muncul ketika individu memaknai tugas-tugas tersebut sebagai sebuah ancaman atau sesuatu yang sangat sulit.
“Di situlah muncul pikiran-pikiran irasional pada akhirnya. Dan lebih jauh lagi nanti akhirnya menjadi gangguan kecemasan,” tambahnya.
Data Kesehatan Mental di Indonesia 2026
Potensi gangguan mental ini tercermin dalam data terbaru. Laporan Indonesia Health Insights Report bertajuk “Navigating Indonesia’s Mental Health Landscape 2026” dari Halodoc menunjukkan bahwa gangguan ansietas (kecemasan) menjadi diagnosis tertinggi.
- Diagnosis Ansietas: 31,6% dari total konsultasi.
- Pertumbuhan Kasus: Meningkat 47,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Prevalensi Global (WHO): 1 dari 8 hingga 1 dari 10 orang mengalami gangguan jiwa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengungkapkan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025-2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen dari sekitar 7 juta anak yang diperiksa.
Secara spesifik, data Kemenkes mencatat sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder), dan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder). Angka ini dinilai signifikan dan memerlukan perhatian serius dalam penanganan kesehatan mental sejak dini. (Ant/H-4)
