Dilema Kamala Harris: Peluang Pilpres 2028 dalam Trauma Kekalahan 2024
Kamala Harris.(The Washington Post)

JIKA Kamala Harris memutuskan untuk mencalonkan diri kembali sebagai presiden pada 2028, ia akan memulai langkahnya dengan keuntungan yang sulit ditandingi oleh rival mana pun: pengenalan nama yang hampir universal, pengalaman di Gedung Putih, dan pelajaran berharga sebagai mantan pembawa panji partai. Namun, bagi banyak pihak di internal Partai Demokrat, semua itu mungkin belum cukup.

Di tengah manuver belasan tokoh Demokrat menuju 2028, Harris tetap memiliki rasa hormat yang besar di dalam partai. Namun, wawancara dengan 18 ahli strategi, donor, dan mantan pendukung mengungkapkan ketidakpastian yang mendalam. Muncul perdebatan apakah momentum Harris terputus secara tidak adil atau apakah masanya memang sudah berlalu untuk memimpin Demokrat kembali berkuasa.

Antara Resume Mumpuni dan Keinginan Berubah

Para pendukung Harris berargumen bahwa ia layak mendapatkan kesempatan yang lebih adil dibandingkan kampanye 107 hari yang panik saat ia harus mengambil alih posisi Joe Biden. Dengan rekam jejak sebagai senator, jaksa agung, wakil presiden, hingga nomine presiden, Harris dipandang memiliki kesiapan infrastruktur kampanye yang bisa diaktifkan dengan cepat.

Namun, pihak lain melihat Harris sebagai sosok yang terikat erat dengan masa lalu partai yang baru saja kalah. Kelompok ini mendambakan pemimpin baru, ide-ide lebih tajam, dan pemutusan hubungan lebih tegas dengan tatanan politik lama sebelum kembalinya Donald Trump ke tampuk kekuasaan.

Catatan Kekalahan 2024: Harris kalah dalam suara populer dari Trump dengan selisih sekitar 2,3 juta suara dan kalah di Electoral College dengan angka 312 berbanding 226.

Munculnya Penantang Baru

Sejumlah tokoh potensial mulai menunjukkan taringnya. Mantan Menteri Transportasi Pete Buttigieg, Gubernur Maryland Wes Moore, dan Gubernur California Gavin Newsom melakukan kunjungan ke South Carolina, negara bagian yang akan menjadi lokasi primer pertama Demokrat pada 2028.

Gavin Newsom menyatakan tidak akan maju jika Harris ikut bertarung demi menghindari perpecahan basis dukungan. Namun, tokoh lain seperti Fletcher Smith, mantan legislator South Carolina, berpendapat bahwa partai perlu melangkah maju. “Orang-orang hanya ingin move on. Kita punya generasi muda yang mampu memimpin–gubernur, anggota kongres, senator,” ujarnya.

Risiko Politik dan Dukungan Konstituen

Mengabaikan Harris juga membawa risiko politik yang besar, terutama di kalangan pemilih perempuan kulit hitam, salah satu konstituen paling loyal bagi Demokrat. L. Louise Lucas, Presiden Pro Tempore Senat Negara Bagian Virginia, memperingatkan bahwa penolakan terhadap Harris bisa dianggap sebagai penghinaan yang menyakitkan bagi perempuan kulit hitam yang telah berjuang keras di jalur kepemimpinan.

Di sisi lain, kritik internal menyebutkan bahwa Harris gagal mendefinisikan arti pencalonannya bagi konstituen kunci. Bakari Sellers, mantan senator negara bagian South Carolina, menyoroti bahwa Harris belum cukup bicara mengenai isu biaya hidup atau upaya memperkuat dukungan di kalangan pria kulit hitam.

Masa Depan yang masih Terbuka

Melalui juru bicaranya, Harris menolak berkomentar lebih lanjut mengenai spekulasi ini. Namun, ia telah merilis memoar berjudul 107 Days yang merinci kesulitannya membedakan diri dari Biden selama menjabat sebagai wakil presiden.

Harris tetap membiarkan pintu terbuka untuk 2028. Ia mulai memperluas penampilan publiknya menjelang pemilu sela, berkampanye di negara bagian kunci seperti Michigan dan Georgia. Bagi para pendukungnya, pertanyaannya bukan lagi ‘mengapa dia?’, melainkan ‘mengapa bukan dia?’ mengingat pengalamannya menghadapi tekanan nasional yang belum tentu bisa ditanggung oleh kandidat lain. (The Washington Post/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *