
PENYAKIT jantung sering kali berkembang secara diam-diam tanpa menimbulkan keluhan atau gejala yang jelas bagi penderitanya. Kondisi ini membuat seseorang yang merasa sehat secara fisik belum tentu terbebas dari risiko penyempitan pembuluh darah yang mematikan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A. Damay, mengingatkan bahwa penyempitan pembuluh darah pada tahap tertentu memang tidak menunjukkan tanda-tanda klinis. Ia menyebutkan sekitar 30 hingga 40% kasus penyempitan pembuluh darah tidak menimbulkan keluhan, namun tetap berpotensi memicu serangan jantung mendadak.
“Kalau kita mengubah pola hidup, tidur lebih teratur, menurunkan berat badan dengan komposisi yang baik, dengan latihan, olahraga, atur makan, kekakuan pembuluh darah mungkin bisa berubah,” ujar Vito dilansir dari Antara, Rabu (7/10).
Menurut anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) ini, absennya gejala sering kali disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik. Seseorang yang lebih banyak duduk dan jarang berolahraga mungkin tidak merasakan gejala penyempitan karena jantungnya tidak pernah dipacu untuk bekerja lebih keras.
Vito menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan. Berdasarkan pengalamannya menangani pasien, sekitar 90% pasien jantung diketahui tidak rutin berolahraga. Padahal, aktivitas fisik dan pengaturan pola makan adalah fondasi utama pencegahan.
Selain olahraga, faktor tidur sering kali dianggap remeh oleh masyarakat. Padahal, kurang tidur merupakan faktor risiko signifikan bagi kesehatan jantung.
“Tidur ini paling orang abaikan,” tegasnya. Ia juga menyoroti pentingnya mengelola stres dan berhenti merokok sebagai langkah krusial mengurangi risiko kerusakan pembuluh darah.
Sebagai penutup, Vito menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan jantung harus dilakukan sedini mungkin sebelum terjadi kerusakan permanen atau penyempitan pembuluh darah yang parah. (Ant/Z-10)
