
PENYAKIT jantung sering kali dijuluki sebagai “silent killer” karena muncul tanpa menimbulkan keluhan atau gejala yang jelas. Seseorang yang merasa sehat secara fisik belum tentu terbebas dari risiko penyempitan pembuluh darah yang mematikan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), Mkes, AIFO-K, FIHA, FICA, FAsCC, menekankan bahwa kondisi pembuluh darah yang bermasalah sering kali tidak terdeteksi hingga mencapai tahap yang kritis. Oleh karena itu, pemahaman mengenai faktor risiko dan perubahan gaya hidup menjadi kunci utama dalam pencegahan.
Bahaya Penyempitan Pembuluh Darah
Menurut Dr. Vito, penyempitan pembuluh darah pada tingkat tertentu dapat berlangsung sepenuhnya tanpa gejala. Hal ini sangat berisiko karena pasien tidak merasa perlu melakukan pemeriksaan medis.
Fakta Medis: Sekitar 30–40 persen penyempitan pembuluh darah belum tentu menimbulkan keluhan fisik, namun kondisi ini tetap memiliki potensi besar berkembang menjadi serangan jantung mendadak.
Salah satu alasan mengapa gejala tidak muncul adalah kurangnya aktivitas fisik. Ketika seseorang lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk (sedentari) dan jarang berolahraga, jantung tidak dipacu untuk bekerja lebih keras. Akibatnya, penyempitan pembuluh darah yang ada tidak memberikan sinyal peringatan yang biasanya muncul saat tubuh sedang beraktivitas berat.
Menjaga kesehatan jantung tidak bisa hanya mengandalkan intervensi medis atau obat-obatan semata. Dr. Vito, yang juga merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), menyoroti beberapa langkah krusial yang harus dilakukan:
1. Aktivitas Fisik dan Olahraga
Data dari pengalaman klinis Dr. Vito menunjukkan fakta yang memprihatinkan: sekitar 90 persen pasien jantung yang ia tangani ternyata tidak memiliki kebiasaan berolahraga. Olahraga bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan untuk menjaga elastisitas pembuluh darah. Dengan latihan yang teratur, kekakuan pembuluh darah memiliki kemungkinan untuk membaik.
2. Kualitas Tidur yang Sering Diabaikan
Tidur sering kali dianggap remeh dalam manajemen kesehatan jantung. Padahal, kurang tidur merupakan faktor risiko yang signifikan. Dr. Vito memasukkan durasi dan kualitas tidur sebagai pilar utama bersama dengan pola makan dan manajemen stres.
3. Berhenti Merokok
Merokok adalah salah satu pemicu utama kerusakan pembuluh darah. Meskipun sulit bagi sebagian orang, berhenti merokok adalah perubahan paling efektif untuk mengurangi faktor risiko secara drastis.
4. Pengaturan Pola Makan dan Berat Badan
Menurunkan berat badan dengan komposisi tubuh yang baik melalui pengaturan nutrisi sangat membantu mengurangi beban kerja jantung. Pola makan yang sehat membantu mencegah penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.
Sebelum Terjadi Kerusakan
Upaya menjaga kesehatan jantung sebaiknya dilakukan sedini mungkin, jauh sebelum terjadi kerusakan permanen atau penyempitan pembuluh darah yang parah. “Kalau kita mengubah pola hidup, tidur lebih teratur, menurunkan berat badan dengan komposisi yang baik, dengan latihan, olahraga, atur makan, kekakuan pembuluh darah mungkin bisa berubah,” pungkas Dr. Vito.
| Faktor Risiko | Tindakan Pencegahan |
|---|---|
| Gaya Hidup Sedentari | Olahraga rutin dan aktif bergerak |
| Kurang Tidur | Mengatur jadwal tidur yang teratur |
| Kebiasaan Merokok | Berhenti merokok sepenuhnya |
| Pola Makan Buruk | Diet seimbang dan jaga berat badan ideal |
(Ant/H-4)
