
DEKAN Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Cecep Darmawan menilai dosen dan guru harus kreatif membangun sistem agar siswa atau mahasiswa tidak memiliki kesempatan untuk mencontek.
“Diterapkan sistemnya dulu supaya siswa atau mahasiswa tidak bisa mencontek apapun kondisinya. Sehingga jangan cepat menyalahkan mahasiswa atau dosen,” kata Cecep saat dihubungi, Selasa (6/10).
Sebelumnya berdasarkan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2026 dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat 71 persen mahasiswa Indonesia senang menyontek dan 93 persen kampus rawan plagiarisme.
Ia mencontohkan sistem yang dimaksud berupa memberi jarak saat ujian, soal yang berbeda, bentuk soal berupa analisis serta evaluatif atau bukan soal kognitif tingkat dasar.
“Sehingga mahasiswa yang masih mencontek dosen juga harus introspeksi diri,” ujar dia.
Selain itu, perlu ada sanksi tegas kepada siswa atau mahasiswa yang mencontek seperti didiskualifikasi atau peringatan. Jika tidka ada sanksi tegas maka keterbiasaan tersebut akan terus berulang.
“Hal-hal dasar tersebut harus dilihat jangan hanya sekedar KPK itu nyebarin angket, responden mengisi tapi harus nyata di lapangan. Ketika tidak ada kesempatan buata mencontek maka siswa atau mahasiswa juga tdak akan mencontek,” ungkap dia.
“Dibikin dulu sistemnya supaya tidak ada peluang untuk nyontek kalau belum menciptakan sistem kemudian anak mencontek seakan-akan diberi kesempatan. Sistem akan membentuk pembiasaan, dengan pembiasaan menjadi keterbiasaan,” pungkasnya. (Iam/P-3)
