
PRANCIS bersiap menghadapi aksi demonstrasi berskala nasional menyusul seruan dari para penyelenggara unjuk rasa untuk mendukung tuntutan siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Para pelajar mendesak pemerintah meningkatkan investasi pada sektor pendidikan publik.
Langkah ini diambil setelah rangkaian aksi protes selama sepekan berujung pada aksi pemblokiran ratusan sekolah, sedikitnya 190 siswa mengalami luka-luka, dan lebih dari 5.000 orang ditangkap oleh pihak kepolisian.
Tingkat kekerasan dilaporkan meningkat selama bentrokan berlangsung. Pada hari Senin, seorang siswa berusia 15 tahun di kota Lens mengalami cedera parah hingga tangannya putus akibat ledakan saat bentrokan di dekat sekolahnya. Sementara itu, seorang siswa berusia 14 tahun bernama Eden dilaporkan menderita patah tulang rahang ganda setelah dihantam tabung gas air mata di Saint-Ouen-l’Aumône.
Ibu dari Eden menyampaikan keprihatinannya atas tindakan aparat terhadap para demonstran.
“Ini memuakkan, ini mengerikan, ini sangat keras. Hal seperti ini tidak boleh terjadi. Mereka sedang berhadapan dengan anak-anak yang hanya meminta kondisi belajar yang lebih baik,” ujarnya dalam konferensi pers.
Pemerintah Janjikan Langkah Solutif, Aktivis Sebut Belum Konkret
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengumumkan sejumlah langkah untuk mengatasi permasalahan di sekolah, namun ia juga menegaskan sikap keras terhadap tindakan anarkis.
“Kami tidak akan memberikan toleransi terhadap kekerasan. Kami berdiri bersama para siswa dan staf yang menjadi korban serangan, serta petugas kepolisian dan gendarme yang mengalami luka-luka,” kata Lecornu.
Menteri Pendidikan Édouard Geffray mengungkapkan sedikitnya 24 sekolah telah “dibakar dan dijarah” sejak aksi dimulai. Di sisi lain, seruan pemerintah dinilai tidak menyelesaikan akar masalah oleh organisasi siswa. Serikat siswa Union Syndicale Lycéenne (USL) menilai respons pemerintah sama sekali “tidak konkret” dan mengecam tindakan represif aparat kepolisian.
Gelombang protes yang dimulai sejak September di Paris ini awalnya dipicu oleh ketidakpuasan siswa atas fasilitas sekolah yang rusak, ruang kelas yang terlalu padat, serta kekurangan tenaga pengajar. Aksi ini kemudian meluas ke berbagai kota dan turut diikuti oleh para mahasiswa serta serikat guru.
Politik Dalam Negeri Turut Memanas
Krisis ini berimbas pada situasi politik nasional. Tokoh politik sayap kiri radikal dari partai La France Insoumise (LFI), Jean-Luc Mélenchon, menyebut demonstrasi ini sebagai “gerakan pemuda sekolah dan mahasiswa paling kuat” sejak peristiwa besar tahun 1968.
Sebaliknya, politisi dari kubu pemerintah dan sayap kanan menuding kelompok kiri sengaja memperkeruh situasi. Pemimpin partai Rassemblement National, Marine Le Pen, mengkritik keras eskalasi ini.
“Ini bukan lagi soal protes siswa sekolah. Ini adalah kerusuhan yang diorganisir oleh para profesional dan diawasi oleh anggota dewan dari La France Insoumise,” ujar Le Pen.
Menurut data dari Kementerian Kehakiman Prancis, dari total 5.060 orang yang ditangkap sejak awal gelombang demonstrasi, sebanyak 87 persen di antaranya merupakan anak di bawah umur. Sebanyak 1.802 orang di antaranya kini menghadapi proses hukum. (BBC/Z-2)
