
HASIL penyelidikan internasional terhadap insiden percobaan pembajakan pesawat Flydubai rute Dubai-Tel Aviv mengindikasikan terduga pelaku bertindak seorang diri.
Seorang pejabat Israel menyampaikan informasi dari proses pemeriksaan sejauh ini mengarah pada dugaan bahwa tersangka bergerak tanpa bantuan pihak lain. Sumber Israel lainnya menambahkan bahwa hingga saat ini, pihak otoritas belum menemukan adanya keterkaitan antara pelaku dengan kelompok atau pemerintah tertentu. Namun, kedua sumber menegaskan bahwa hal tersebut merupakan pemahaman yang didapat dari proses penyidikan yang masih berlangsung.
Investigasi atas insiden ini dilakukan secara bersama oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel, serta Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, tempat pesawat melakukan pendaratan darurat.
Jaksa Agung UEA, Hamad Saif Al Shamsi, mengategorikan insiden tersebut sebagai “aksi terorisme”. Ia menjelaskan bahwa sang kopilot berusaha mengambil alih kendali pesawat dengan menyerang rekannya menggunakan kapak darurat (crash ax), peralatan wajib yang berada di dalam kokpit pesawat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan berdasarkan data pribadi yang dikumpulkan selama proses interogasi, tersangka dipahami telah “menjalani doktrinasi radikal Islam.” Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan tersangka mungkin terhubung dengan Iran berdasarkan informasi yang ia dengar, meski tanpa merinci detail lebih lanjut.
Penerbangan Flydubai FZ1073 tersebut sempat meluncur turun ribuan kaki hanya dalam hitungan menit saat serangan terjadi di dalam kokpit. Kendati mengalami luka-luka, Kapten Pilot Smit Machchhar berhasil membuka kunci pintu kokpit dan memberikan sinyal darurat. Langkah tersebut memungkinkan para penumpang dan kru bergegas masuk ke kokpit untuk mengamankan situasi serta merebut kembali kendali pesawat.
Penyelidikan kini berfokus pada latar belakang terduga pelaku yang diidentifikasi bernama Hamam al-Hammami, seorang warga negara Oman. Pelaku diketahui pernah diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya di maskapai nasional Oman Air tahun lalu akibat kekhawatiran atas pandangan ekstremisnya.
Berdasarkan profil LinkedIn atas nama Hamam al-Hammami yang kini telah dihapus, ia tercatat bekerja di Oman Air selama tujuh tahun hingga Februari 2025. Sumber menyebutkan bahwa pelaku baru bekerja di Flydubai selama delapan bulan.
Selain itu, pihak Royal Air Maroc mengonfirmasi bahwa tersangka sempat mengikuti pelatihan pra-kerja selama tiga bulan pada tahun 2025, namun tidak lolos seleksi menjadi pegawai. Di sisi lain, Kepolisian Federal Australia (AFP) turut menggelar investigasi untuk menelusuri keterkaitan al-Hammami dengan negara tersebut.
Sekitar sembilan jam setelah insiden terjadi, sebuah unggahan yang menampilkan foto mantan pemimpin al-Qaeda muncul di profil LinkedIn milik al-Hammami. Namun, belum dapat dipastikan siapa yang memublikasikan unggahan tersebut atau apakah konten itu telah dijadwalkan sebelumnya.
Insiden ini memicu pertanyaan besar mengenai prosedur keamanan penerbangan Israel, terutama bagaimana seorang warga negara Oman, negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, dapat diizinkan menjadi kopilot penerbangan menuju Tel Aviv.
Otoritas Pajak Israel mengonfirmasi bahwa daftar nama seluruh penumpang dan kru telah diserahkan sebelum pesawat lepas landas. Namun, juru bicara Kementerian Transportasi Israel menyatakan protokol mereka tidak mencakup pemeriksaan nama-nama kru penerbangan. Celah keamanan ini memicu kritik tajam terhadap pemerintah Israel, bahkan sejumlah figur oposisi mendesak pencopotan Menteri Transportasi Miri Regev dari jabatannya. (CNN/Z-2)
