
Kontingen Indonesia resmi mengakhiri perjuangan di ajang Asian Games 2026 dengan menempati posisi ke-16 pada klasemen akhir perolehan medali. Hingga hari terakhir penyelenggaraan, Minggu (4/10) waktu setempat, Indonesia mengoleksi total 39 medali yang terdiri atas lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Capaian tersebut mendapat kritik tajam dari pengamat olahraga Fritz Simanjuntak. Ia menilai hasil tersebut jauh dari memuaskan, terutama karena posisi Indonesia berada di bawah negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Dengan kekuatan 430 atlet yang dikirim, Fritz menyebut hasil ini sebagai sebuah kegagalan.
“Karena itu dengan 430 atlet yang dikirim, maka saya melihat tim Indonesia gagal total,” ujar Fritz saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (5/10).
Kritik Target Medali yang Terlalu Rendah
Fritz mempertanyakan kebijakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang hanya mematok target awal empat medali emas. Menurutnya, target tersebut terlalu pesimistis dan tidak mencerminkan potensi riil atlet Indonesia di beberapa cabang olahraga unggulan.
“Sejak awal saya heran kok target medali emas hanya empat. Itu sangat pesimis. Padahal dari potensinya Bulutangkis 1, Angkat Besi 2, Panjat Tebing 2. Itu potensi riil-nya,” tegasnya. Ia menilai otoritas olahraga nasional cenderung mengambil ‘safe target’ atau target aman karena kurang memahami kondisi lapangan para atlet.
Urgensi Sarana Pelatihan Modern
Sebagai langkah pembenahan, Fritz menekankan pentingnya pembangunan sarana dan prasarana pelatihan modern yang selama ini dinilai kurang mendapat perhatian pemerintah. Ia meminta pemerintah membangun fasilitas yang memadai agar pembinaan atlet dapat berlangsung secara jangka panjang dan tidak terputus.
“Jadi bangun dulu sarana dan prasarananya. Jadi ada pelatihan jangka panjang yang tidak terputus,” paparnya. Selain fasilitas, Fritz juga menyoroti masalah alokasi anggaran yang dinilai tidak tepat sasaran.
Persoalan Alokasi Anggaran dan Prioritas Cabor
Fritz membandingkan dukungan anggaran antar cabang olahraga yang dianggap timpang. Ia menyayangkan pengiriman tim beregu yang rekam jejak prestasinya minim, sementara atlet potensial justru kurang mendapat dukungan finansial.
Ia mencontohkan atlet panjat tebing yang memiliki potensi dua emas namun sempat harus menggunakan biaya sendiri untuk mengikuti Kejuaraan Dunia sebagai ajang pemanasan sebelum Asian Games 2026. “Mungkin saja setelah isu ini mencuat Kemenpora dan KOI mengganti dana mereka. Tetapi ini jelas sangat konyol,” tambahnya.
Bulutangkis Sebagai Role Model
Di tengah rapor merah tersebut, Fritz memuji cabang olahraga bulutangkis yang menjadi penyumbang medali terbanyak, termasuk emas. Baginya, bulutangkis adalah bukti nyata bahwa keberadaan pusat pelatihan nasional (Pelatnas) yang mapan sangat membantu prestasi atlet.
“Itu bukti sarana dan prasarana pelatnas sangat membantu prestasi atletnya. Pertanyaan saya, kenapa cabor pilihan tidak dibuatkan pelatnas seperti di bulutangkis? Semoga pemerintah membangun fasilitas pelatnas untuk cabang olahraga penyumbang medali,” pungkas Fritz. (E-3)
