
DALAM asumsi dasar ekonomi makro 2027, pemerintah dan DPR menyepakati pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Untuk mencapai target tersebut, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyebut fiskal tidak bisa bekerja sendiri.
“Kalau bicara pertumbuhan ekonomi ada C (konsumsi), ada I (investasi), ada G (pengeluaran pemerintah), ada X (ekspor) dikurangi impor (M). Jadi fiskal hanya G dan mungkin dia akan ikut membantu di C di konsumsi, melalui bantuan-bantuan sosial akan mendorong C, konsumsi,” ujar Juda dalam acara Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Kamis (1/9).
“Jadi fiskal tidak bisa sendiri. Dia harus bekerja bersama dengan agen-agen ekonomi yang lain,” imbuhnya.
Pertama, sinergi perlu dilakukan dengan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang mengendalikan harga, inflasi, dan stabilisasi nilai tukar.
“Kalau ini tidak terjaga, pasti ekonomi akan terpengaruh. Kalau inflasi tidak terjaga, nilai tukar tidak terjaga, tentu saja akan berpengaruh pada growth,” jelas Juda.
“Kita masih banyak impor. Walaupun nilai tukar yang melemah juga mendorong ekspor dalam arti rupiah yang kita dapatkan lebih banyak tetapi dia secara net sifatnya kontraktif. Jadi nilai tukar memang harus dijaga stabilitasnya,” imbuhnya.
Peran selanjutnya yang dibutuhkan adalah dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Juda menyebut Danantara sekarang menjadi agen yang penting.
“Karena dividen-dividen BUMN yang dulu masuk di APBN yang kemudian digunakan untuk investasi pemerintah, sekarang pindah ke Danantara. Artinya memang Danantara punya peran menjadi katalis investasi di sektor swasta,” ujarnya.
“Sektor swasta sendiri memegang peranan penting di dalam setiap perekonomian. Kalau swastanya gak bergerak, pertumbuhan ekonomi 6% juga tidak bisa tercapai,” kata Juda.
Yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah dorongan dari sektor pembiayaan. “Likuiditas, kredit, pasar modal, dan pembiayaan lainnya ini penting. Jadi sinergi dari lima agen di dalam perekonomian ini penting untuk mendorong pertumbuhan 6%,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengakui target pertumbuhan ekonomi 6% pada tahun depan cukup menantang.
“Kalau kita melihat pertumbuhan konsumsi rumah tangga relatif trennya cukup stabil di kisaran 5%. Kita melihat dari sisi kinerja net ekspor kurang impor pun juga dengan gejolak dari global, lalu dengan implementasi tarif dagang, tentunya ini menjadi kombinasi tantangan bagi Indonesia,” kata Josua.
Karena itu, katanya, yang perlu dioptimalkan adalah dari sisi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang bisa tumbuh sekitar 10%-12%.
“Tentunya harapannya APBN ini berfungsi sebagai katalis yang bisa menarik investasi swasta. Di sini juga peran dari Danantara, perbankan, investasi asing, KPBU (kerja sama pemerintah dan badan usaha) dan juga reformasi iklim usaha, ini menjadi sangat menentukan,” pungkasnya. (E-4)
