Reshuffle Kabinet Ketujuh Prabowo, Pakar: Harus Ada Hasil Konkret
Presiden Prabowo Subianto(Antara)

Perombakan kabinet ketujuh Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi momentum krusial untuk membuktikan adanya perbaikan nyata dalam tata kelola pemerintahan. Langkah ini dipandang harus melampaui sekadar pembagian ulang kursi kekuasaan di antara elite politik.

Direktur Eksekutif Survei dan Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara, menyatakan bahwa publik saat ini tengah menantikan hasil konkret dari perubahan susunan kabinet tersebut. Menurutnya, efektivitas perombakan ini akan diuji melalui pembenahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Pascareshuffle, masyarakat tentu menunggu perbaikan nyata yang dilakukan presiden terkait perombakan kabinetnya atau itu cuma sekadar pembagian ulang kursi kekuasaan tanpa pembenahan yang cukup berarti di tahun kedua pemerintahan Prabowo,” ujar Igor saat dihubungi, Kamis (1/10).

Instrumen Kerja, Bukan Sekadar Keseimbangan Elite

Igor menjelaskan bahwa reshuffle ini dapat dibaca sebagai respons Presiden Prabowo terhadap kritik publik serta berbagai tantangan dinamika ekonomi dan politik. Ia menekankan bahwa perubahan susunan kabinet wajib diikuti dengan peningkatan kinerja agar kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah tetap terjaga.

Ia menilai kabinet semestinya ditempatkan sebagai instrumen utama untuk menjalankan roda pemerintahan. Memasuki tahun kedua masa jabatan, fase transisi dianggap sudah selesai dan harus digantikan dengan pembuktian hasil kerja yang nyata.

“Reshuffle bisa menjadi cara untuk menegaskan kembali bahwa kabinet adalah instrumen kerja, bukan melulu sekadar representasi keseimbangan elite,” tegasnya.

Fase Pembuktian dan Risiko Politik

Lebih lanjut, Igor menyoroti bahwa masyarakat kini tidak lagi berada dalam posisi menunggu janji-janji politik. Fokus utama publik adalah menagih hasil dari berbagai perubahan yang telah dilakukan di jajaran pemerintahan.

“Pemerintahan harusnya sudah melewati masa transisi. Sekarang adalah fase pembuktian, karena rakyat tidak lagi menunggu janji, tetapi sedang menagih hasil,” imbuhnya.

Salah satu poin yang disorot dalam dinamika perombakan kali ini adalah perubahan pada posisi strategis, termasuk pergantian Kapolri. Igor berharap pergeseran ini mampu berkontribusi pada peningkatan apresiasi publik terhadap pemerintah.

Analisis Risiko: Igor mengingatkan bahwa reshuffle memiliki konsekuensi politik bagi Presiden. Jika diikuti perbaikan kinerja, hal ini akan menjadi instrumen mitigasi risiko politik. Namun, jika gagal membawa pembenahan, reshuffle justru berpotensi menambah beban moral dan politik bagi Presiden Prabowo.

“Karena bagaimanapun, reshuffle kabinet juga berfungsi untuk mengurangi risiko politik presiden, bukan malah menambah beban moral presiden,” pungkas Igor.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *