Buku Wartawan Media Indonesia Raih IKAPI Award 2026
Para penerima IKAPI Award 2026 termasuk wartawan Media Indonesia Yose Hendra.(Dok.Istimewa)

BUKU Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat karya wartawan Media Indonesia Yose Hendra meraih IKAPI Award 2026 untuk kategori Local Content of the Year. Penghargaan tersebut diberikan pada pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (30/9).

Kategori Local Content of the Year baru pertama kali dibuka Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) tahun ini. Kategori tersebut ditujukan untuk mengapresiasi buku yang mengangkat budaya, tradisi, pengetahuan, dan kearifan lokal Nusantara.

Ketua Umum IKAPI Arys Hilman Nugraha mengatakan penghargaan tidak hanya mempertimbangkan tema lokal, tetapi juga kualitas karya dan manfaatnya bagi pembaca di luar daerah asal.

“Yang kami inginkan adalah penerbitnya penerbit setempat. Kalau bicara soal Sumatra Barat, misalnya kita harapkan yang mengusulkan adalah penerbit Sumatra Barat dan diterbitkan oleh penerbit Sumatra Barat,” kata Arys.

Menurut dia, pengetahuan lokal mengenai kebencanaan memiliki nilai penting karena merekam pengalaman masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Pengetahuan tersebut juga dapat dipelajari oleh masyarakat di daerah lain yang menghadapi persoalan serupa.

“Bahkan bukan hanya di daerah setempat, tetapi juga di daerah-daerah lain yang memiliki persoalan kebencanaan yang sama dan mitigasi kultural,” ujarnya.

Buku Mitigasi Kultural diterbitkan Rumahkayu Pustaka Utama yang berbasis di Padang, Sumatra Barat. Karya tersebut merupakan salah satu hasil program Dana Indonesiana 2024 dari Kementerian Kebudayaan yang diperoleh Yose Hendra. Selain buku, program tersebut juga mendukung produksi film dokumenter Pusaka Tangguh.

Buku tersebut berangkat dari penelitian mengenai pengetahuan kebencanaan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra Barat. Yose mendokumentasikan berbagai bentuk pengetahuan lokal, antara lain petatah-petitih, tambo, syair, toponimi, ritual, pantangan, rumah gadang, serta uma di Mentawai.

Pengetahuan tersebut merekam cara masyarakat berhubungan dengan lingkungan dan mengenali potensi ancaman bencana yang diwariskan antargenerasi.

Yose mengatakan dokumentasi pengetahuan lokal penting karena masyarakat memiliki pengalaman panjang dalam membaca perubahan lingkungan di sekitarnya.

“Bencana boleh datang sebagai peristiwa alam, tetapi keselamatan ditentukan oleh pengetahuan manusia dalam membaca alam dan mewariskannya kepada generasi berikutnya,” kata Yose, yang telah 16 tahun menjadi wartawan Media Indonesia.

Menurut dia, pengetahuan lokal tidak perlu dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Keduanya dapat dipertemukan untuk memperkuat upaya mitigasi dan keselamatan masyarakat.

“Yang kita perlukan bukan memilih antara pengetahuan modern dan pengetahuan lokal. Yang kita perlukan adalah mempertemukan keduanya untuk menyelamatkan manusia,” ujarnya.

Direktur Rumahkayu Pustaka Utama Alizar Tanjung mengatakan penghargaan tersebut menunjukkan penerbit daerah memiliki peluang membawa isu lokal ke tingkat nasional. Menurut dia, karya berbasis riset dapat menjadi sarana memperkenalkan persoalan dan pengetahuan daerah kepada pembaca yang lebih luas.

“Ini bukan hanya tentang satu buku. Ini menunjukkan bahwa penerbit lokal dapat mengangkat isu daerah melalui riset yang serius dan menghasilkan karya yang dapat berbicara di tingkat nasional,” kata Alizar.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian IIBF 2026. Selain pameran buku, kegiatan tersebut menghadirkan Children’s Book Fest, Story Market, Book-to-Screen Workshop, diskusi, temu penulis, dan sejumlah program yang melibatkan komunitas serta industri kreatif.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan IIBF menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi, industri penerbitan, dan ekonomi budaya. Pemerintah, kata dia, memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan IIBF sebagai ruang pertemuan antara penulis, penerbit, pembaca, dan industri kreatif.

“Kita menyambut baik penyelenggaraan IIBF 2026 ini yang diposisikan sebagai festival buku sekaligus hub dari industri kreatif berbasis konten,” kata Fadli saat membuka IIBF 2026.

Fadli mengatakan IIBF memiliki tiga fungsi utama, yakni meningkatkan literasi publik dan keterlibatan pembaca, mengembangkan industri penerbitan dan profesional, serta memperluas kolaborasi di bidang hak cipta, kekayaan intelektual, dan industri kreatif.

Ia juga mendorong penulis dan penerbit memperbanyak karya mengenai Indonesia, termasuk sejarah dan peradaban Nusantara yang belum banyak terdokumentasi.

“Masih terlalu banyak yang belum ditulis tentang perjalanan peradaban di Nusantara ini. Masih terlalu banyak yang belum ditulis. Apalagi dibaca,” ujarnya.

Menurut Fadli, karya Indonesia juga perlu diterjemahkan ke berbagai bahasa agar dapat menjangkau pembaca internasional. Buku, katanya, dapat menjadi salah satu sarana diplomasi kebudayaan dengan memperkenalkan kekayaan pengetahuan dan budaya Indonesia.

“Literasi adalah bagian dari diplomasi budaya dan buku juga utusan yang tidak pernah lelah berjalan dari satu generasi ke generasi lain, dari satu bangsa ke bangsa lain,” kata Fadli.

Penghargaan terhadap Mitigasi Kultural sekaligus menempatkan pengetahuan lokal mengenai kebencanaan dalam ruang perbukuan nasional. Dokumentasi tersebut membuka peluang agar pengalaman masyarakat dalam mengenali lingkungan dan menghadapi ancaman bencana dapat dipelajari serta dipertemukan dengan pendekatan ilmiah. (E-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *