
ADOPSI kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di perusahaan-perusahaan Indonesia kini mulai bergeser dari sekadar tahap uji coba menuju pemanfaatan nyata dalam aktivitas bisnis. Namun, perkembangan ini menuntut kesiapan yang matang, tidak hanya dalam pemilihan teknologi, tetapi juga pada aspek data, keamanan, dan infrastruktur cloud.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam media briefing yang digelar PT Metrodata Electronics Tbk (MII) dan Cloudera. Hadir sebagai pembicara Regional Vice President Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta, dan President Director MII, Alexander Kuntoro. Diskusi ini menyoroti bagaimana perusahaan menghadapi tantangan pengelolaan data di lingkungan hybrid maupun multi-cloud.
Sherlie Karnidta mengungkapkan bahwa AI telah merambah berbagai aspek kehidupan, termasuk di lingkungan profesional. Implementasi teknologi ini terbukti mampu membantu efisiensi pekerjaan sekaligus memacu produktivitas karyawan.
“AI menjadi suatu hal yang hype di seluruh dunia. Semua kehidupan kita, baik di dalam perusahaan maupun di rumah,” ujar Sherlie.
Ia menyarankan agar perusahaan memulai adopsi AI melalui tahap piloting. Melalui proses ini, perusahaan dapat menguji berbagai use case terlebih dahulu sebelum memperluas skalanya ke proses bisnis yang memberikan dampak signifikan.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, tata kelola data menjadi krusial. Perusahaan wajib memastikan data yang digunakan tersedia, aman, dan dikelola sesuai regulasi, terutama jika menyangkut data sensitif.
Tantangan di Lingkungan Multi-Cloud
President Director MII, Alexander Kuntoro, menambahkan bahwa kebutuhan teknologi yang semakin beragam membuat data dan AI sering kali harus berjalan di lingkungan yang berbeda-beda. Hal ini mendorong pendekatan hybrid dan multi-cloud menjadi pilihan utama dalam infrastruktur perusahaan saat ini.
Menurut Alexander, diperlukan platform yang mampu mengintegrasikan kebutuhan hybrid, data, dan AI untuk mendukung pengolahan informasi di berbagai departemen secara efisien.
Namun, ia memperingatkan bahwa penggunaan banyak lingkungan cloud membawa tantangan kompleks. Perusahaan harus mampu mengelola konfigurasi, keamanan, operasional, hingga governance secara serentak. Kompleksitas ini berpotensi meningkat jika perusahaan menggunakan alat atau komponen dari pihak ketiga.
Alexander menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi agar fleksibilitas penggunaan cloud tetap sejalan dengan standar keamanan dan tata kelola perusahaan.
Di sisi lain, Sherlie menegaskan bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan peran konsultan atau tenaga ahli. Sebaliknya, teknologi ini menjadi alat bantu bagi para profesional untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, sehingga solusi yang diberikan kepada pelanggan menjadi lebih efisien.
Keberhasilan penerapan AI di perusahaan pada akhirnya bergantung pada ekosistem yang utuh. Kesiapan data, tata kelola yang kuat, infrastruktur cloud yang andal, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi pilar utama agar AI dapat bertransformasi dari sekadar eksperimen menjadi solusi bisnis yang berkelanjutan. (H-3)
