
AKTIVITAS vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menunjukkan intensitas tinggi. Pada periode pengamatan Selasa (29/9), petugas mencatat adanya guguran lava dengan jarak luncur mencapai 700 meter ke arah tenggara.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, melaporkan bahwa sepanjang periode 29 September 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 Wita, telah terjadi 248 kali letusan. “Teramati guguran dengan jarak luncur 700 meter mengarah ke tenggara,” ungkap Yeremias dalam laporan resminya.
Selain guguran, letusan yang terjadi tercatat memiliki ketinggian antara 200 hingga 500 meter dari puncak kawah. Asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang. Erupsi ini juga disertai dengan lontaran material pijar dalam radius puncak, serta suara dentuman dan gemuruh dengan intensitas lemah hingga sedang.
Pemantauan visual juga menunjukkan aliran lava mengalir ke sektor selatan dengan jarak sekitar 500 meter dari bibir kawah. Sementara itu, asap kawah berwarna putih teramati membubung setinggi 20-100 meter di atas puncak.
Aktivitas erupsi berlanjut hingga Rabu (30/9). Pada pukul 13.24 Wita, kolom erupsi kembali teramati setinggi 500 meter dari puncak. Kolom abu berwarna dominan kelabu tersebut bergerak ke arah barat mengikuti arah angin.
Berdasarkan data kegempaan pada 29 September, selain 248 kali gempa letusan, tercatat pula 162 kali gempa hembusan, delapan kali tremor non-harmonik, satu kali gempa guguran, dan satu kali gempa tektonik jauh.
Saat ini, Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II (Waspada). Pihak berwenang mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi masyarakat dan wisatawan:
- Dilarang memasuki atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas.
- Perluasan radius aman hingga 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara.
- Waspadai potensi guguran lava, longsoran lava, dan awan panas pada sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut.
- Masyarakat diimbau menggunakan masker pelindung mulut dan hidung, serta melindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik.
Hingga saat ini, petugas terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas gunung api tersebut guna meminimalisir risiko bagi warga di sekitar lereng gunung. (H-2)
