
KABUT asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Kota Jambi pada Rabu (30/9) pagi hingga siang kembali melumpuhkan aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Syaefuddin (STS).
Jarak pandang (visibility) yang memburuk secara signifikan membuat sejumlah maskapai gagal mendarat dan menunda keberangkatan.
General Manager Bandara STS, Ardon Marbun, membenarkan adanya gangguan jadwal penerbangan akibat tutupan asap pekat tersebut.
“Sampai pukul 10.00 WIB, menyebabkan visibility (jarak pandang mata normal) hanya menembus 1.500 maksimal. Dan itu tidak layak untuk aktivitas penerbangan, khususnya pendaratan pesawat,” ujar Ardon.
Meski demikian, satu penerbangan pagi tercatat berhasil mengudara. Pesawat Batik Air ID 6807 yang sebelumnya menginap di Bandara STS berhasil bertolak menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada pukul 06.00 WIB, walaupun jarak pandang saat itu berada di angka 800 meter.
Kondisi sebaliknya terjadi pada penerbangan menuju Jambi. Pesawat Batik Air ID 6804 rute Jakarta–Jambi yang dijadwalkan mendarat pukul 10.15 WIB terpaksa membatalkan pendaratan akibat jarak pandang yang makin memburuk.
Setelah sempat empat kali berputar di atas langit Kota Jambi, penerbangan Batik Air ID 6804 akhirnya memutuskan untuk return to base (RTB) atau kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.
Dampak kabut asap karhutla ini juga memicu penundaan (delay) pada penerbangan lainnya dari Jakarta. Maskapai Citilink Indonesia QG 960 yang dijadwalkan bertolak dari Cengkareng pukul 10.25 WIB memilih menunda keberangkatan sambil menunggu pembaruan kondisi cuaca di Jambi.
Langkah serupa diambil oleh maskapai Garuda Indonesia. Ardon Marbun menyampaikan bahwa penerbangan Garuda Indonesia GA 126 rute Soekarno-Hatta menuju Jambi yang dijadwalkan terbang pukul 10.35 WIB juga mengonfirmasi status delay. (SL/P-2)
