Wamendiktisaintek Stella Christie Tekankan Berpikir Kritis Hadapi AI di FEKDI x IFSE 2026
WAKIL Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christi (tengah) di acara High Level Talk bertajuk “Women & Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi” pada ajang Festival Ekonomi Keuangan Digit(MI/HO)

WAKIL Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan inovatif bagi talenta Indonesia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Hal tersebut disampaikannya dalam High Level Talk bertajuk “Women & Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi” pada ajang Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (30/9).

Menurut Stella, kehadiran AI membawa pergeseran signifikan pada kebutuhan kompetensi. Pendidikan tinggi kini memikul tanggung jawab besar untuk mencetak lulusan yang tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi mampu mengevaluasi setiap keluaran (output) dari AI secara mendalam.

“Kalau kita ingin berkompetisi di dunia yang didominasi oleh AI ini, pendidikan tinggi Indonesia harus bisa menyesuaikan orang-orang yang mampu mengevaluasi AI. Mampu mengevaluasi keluaran dari AI ini benar atau tidak, efisien atau tidak, bagus atau tidak,” ujar Stella Christie.

Urgensi Riset dan Adaptasi

Lebih lanjut, Stella menggarisbawahi bahwa kemampuan berinovasi dan berpikir kritis kini menjadi jauh lebih krusial dibandingkan sebelumnya. Ia juga menyoroti peran vital riset di lingkungan perguruan tinggi sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

Menurutnya, inovasi yang lahir dari riset akademis akan menjadi pemimpin pertumbuhan ekonomi (economic growth) di masa depan.

Terkait sifat teknologi yang dinamis, Stella mengingatkan pentingnya kemampuan adaptasi.

“Because this is an ever-changing innovation, yang di mana suka tidak suka kita harus mempelajarinya dan kita harus beradaptasi dalam menjalani keseharian kita,” tegasnya.

Sinergi Lintas Sektor

Senada dengan hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menekankan perlunya transformasi dari sekadar bonus demografi menjadi bonus kompetensi. Sinergi antara pemerintah, BI, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci dalam menyiapkan generasi muda yang produktif melalui pemanfaatan teknologi.

Dari sisi perdagangan, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri memaparkan langkah nyata digitalisasi yang telah dilakukan pemerintah untuk mendukung pelaku usaha dan pasar rakyat.







Program/Capaian Data Fasilitasi Digital (Hingga 2025)
Pasar Rakyat 6.870 pasar telah terfasilitasi digital
Pedagang Lebih dari 300.000 pedagang mendapat pelatihan & sistem pembayaran daring
Ekspansi Global Pengembangan platform InaExport untuk pasar internasional

Perspektif Industri dan Ekosistem

CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, turut memberikan pandangan dari sudut pandang industri. Ia menilai critical thinking sangat diperlukan agar pengguna tidak menelan mentah-mentah hasil analisis AI, melainkan mampu memvalidasi kebenarannya sebelum mengambil keputusan bisnis.

Sementara itu, Direktur Wahid Foundation, Yenni Wahid, mengingatkan bahwa talenta digital yang mumpuni hanya bisa lahir dari ekosistem yang inklusif. Penguatan ekosistem sangat penting agar akses pembelajaran dan kesempatan berkembang dapat dirasakan secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat.

Melalui integrasi antara pendidikan tinggi, riset yang kuat, dan kemampuan adaptasi teknologi, Kemdiktisaintek berkomitmen terus mendorong terciptanya talenta digital yang mampu menopang produktivitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di era AI. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *