Kemenkes Ungkap Ketersediaan Alat EKG di Puskesmas Masih Terbatas
Ilustrasi(magnific)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa upaya deteksi dini gangguan irama jantung di tingkat dasar masih menghadapi tantangan besar. Saat ini, ketersediaan alat elektrokardiogram (EKG) di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh Indonesia tercatat masih sangat terbatas.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyebutkan bahwa jumlah alat EKG yang tersedia baru mencapai sekitar 2.000 unit. Keterbatasan ini berdampak langsung pada belum optimalnya pemeriksaan gangguan irama jantung bagi masyarakat luas.

“Sayangnya memang pemeriksaan EKG yang kita lakukan di level puskesmas ini karena ketersediaan EKG-nya masih terbatas, masih sekitar 2.000, sehingga belum banyak bisa melakukan skrining seperti yang kita harapkan,” ujar Nadia dalam konferensi pers daring bertajuk “Deteksi Dini Aritmia dan Rekomendasi Prosedur untuk Tingkatkan Kualitas Hidup” di Jakarta, Selasa (29/9).

Pentingnya EKG dalam Program Cek Kesehatan Gratis

Pemeriksaan EKG merupakan komponen krusial dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi pemerintah. Selain EKG, skrining penyakit kardiovaskular juga mencakup pengukuran tekanan darah dan indeks massa tubuh (BMI).

Nadia menekankan bahwa EKG sangat penting untuk mendeteksi aritmia atau gangguan irama jantung yang sering kali bersifat asimtomatik atau tidak menunjukkan gejala klinis pada penderitanya. Melalui alat ini, gambaran jantung yang tidak normal dapat terdeteksi lebih awal sebelum muncul keluhan serius.

Data Skrining Kesehatan Nasional








Indikator Keterangan/Target
Ketersediaan Alat EKG saat ini ± 2.000 Unit
Target Peserta CKG (2026) 130 Juta Penduduk
Komponen Skrining Utama EKG, Tekanan Darah, BMI
Fokus Penyakit Tidak Menular Jantung, Stroke, Kanker, Ginjal

Target 2026 dan Upaya Preventif

Pemerintah menargetkan sebanyak 130 juta masyarakat Indonesia dapat mengikuti program CKG pada 2026. Langkah ini merupakan bagian dari strategi promotif dan preventif untuk menekan angka kesakitan serta kematian akibat penyakit tidak menular (PTM).

Dengan deteksi dini melalui EKG, diharapkan masyarakat yang memiliki risiko gangguan jantung namun tidak merasakan gejala dapat segera mendapatkan penanganan medis yang tepat. Upaya ini menjadi prioritas Kemenkes dalam menurunkan beban kesehatan nasional akibat penyakit jantung, stroke, kanker, hingga penyakit ginjal. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *