
RIBUAN orang di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai terdampak kekeringan dan krisis air bersih menyusul musim kemarau panjang tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mencatat sedikitnya 3.031 kepala keluarga (KK) atau setara 10.095 jiwa terdampak kondisi tersebut.
Sebagai langkah penanganan darurat, distribusi air bersih terus dipasok ke wilayah-wilayah terdampak. “BPBD Kabupaten Cirebon telah menyalurkan lebih dari 65 ribu liter air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan,” tutur Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, Minggu (27/9).
Syamsul menjelaskan, distribusi air bersih dilakukan berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi kondisi di lapangan. Saat ini, tercatat ada empat kecamatan yang terdampak kekeringan, yakni Kecamatan Klangenan, Kecamatan Sedong, Kecamatan Gegesik, dan Kecamatan Talun.
“Kecamatan Klangenan menjadi penerima distribusi terbesar dengan 37.000 liter atau sekitar 56,9% dari total bantuan,” tutur Syamsul.
Selanjutnya, Kecamatan Sedong menerima 20.000 liter atau sekitar 30,8%. Sementara Kecamatan Talun dan Gegesik masing-masing memperoleh pasokan 4.000 liter atau setara 6,2% dari total air yang telah disalurkan.
Penyaluran air bersih tersebut menempuh serangkaian tahapan teknis, mulai dari pendataan dan verifikasi lokasi, pengisian air ke armada tangki, pengiriman ke wilayah sasaran, distribusi langsung kepada warga, hingga monitoring dan evaluasi.
“Pencatatan setiap penyaluran diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kekeringan di wilayah Kabupaten Cirebon,” tutur Syamsul.
Ia menambahkan, data penyaluran juga difungsikan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan estimasi kebutuhan bantuan pada tahap berikutnya.
“Kami masih terus memantau wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi di lapangan serta perubahan kebutuhan masyarakat,” tutur Syamsul.
Kabupaten Cirebon menjadi salah satu wilayah di Jawa Barat yang mengalami periode hari tanpa hujan (HTH) cukup panjang. Kondisi ini kian memperketat ketersediaan pasokan air, terutama pada beberapa desa yang sebelumnya sudah tergolong rawan krisis air bersih.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Cirebon mencatatkan hingga 110 hari tanpa hujan per 10 September 2026. (UL/P-2)
