
DALAM beberapa bulan terakhir, pemandangan berbeda tampak di salon Wumman Spa di London. Pemilik salon, Paloma Buddemeier, melihat gelombang pelanggan yang datang bukan untuk mempercantik kuku dengan warna-warni mencolok, melainkan agar terlihat seperti tidak mengenakan cat kuku sama sekali.
“Ini gila,” ujar Buddemeier. Pelanggan tetap merapikan, mengikir, dan melembapkan kutila kuku mereka, namun mereka memilih untuk tidak menggunakan cat kuku.
Fenomena yang dikenal sebagai bare nails atau kuku polos kini tengah marak di media sosial, panggung busana, hingga karpet merah. Banyak pihak menganggap estetika ini sebagai simbol baru dari gaya quiet luxury. Namun, tren ini juga memicu kritik terkait standar kecantikan, kelas sosial, dan siapa yang berhak menentukan batasan sebuah keindahan.
Efisiensi dan Kepraktisan Gaya Hidup
Bagi sebagian perempuan, meninggalkan cat kuku adalah bentuk efisiensi waktu dan biaya. Presenter TV asal Irlandia, Angela Scanlon, yang dulunya rutin pergi ke salon setiap dua minggu untuk perawatan kuku gel, akhirnya memutuskan untuk berhenti.
“Saya mendengar diri saya sendiri berkata kepada orang-orang, ‘Ugh, astaga, saya harus pergi memotong dan merawat kuku saya.’ Dan saya berpikir: ‘Saya mungkin tidak perlu melakukan ini lagi’,” ungkap Scanlon.
Keputusannya untuk berhenti membagikan unggahan kuku polos di media sosial mendapat respons besar dari publik. Tren ini juga diperkuat oleh panggung New York Fashion Week, tempat desainer seperti Marc Jacobs menampilkan para model tanpa cat kuku.
Selain masalah waktu, faktor ekonomi turut mendorong perubahan tren ini. Peningkatan biaya hidup membuat sebagian orang memilih untuk merawat kuku sendiri di rumah.
“Ibaratnya, ini sudah terlalu mahal sekarang,” ujar Emmanuella, seorang warga London. Rekannya menambahkan bahwa perawatan kuku salon memakan banyak waktu dan berisiko rusak saat beraktivitas fisik.
Kritik Budaya dan Implikasi Sosial
Di sisi lain, kritikus dan sejarawan menilai tren kuku polos memiliki implikasi sosial yang lebih mendalam. Seni merias kuku (nail art) secara historis memiliki akar kreatif yang kuat dari komunitas warga kulit hitam, Latino, dan Asia. Anggapan bahwa kuku polos merupakan bentuk kemewahan yang tenang dinilai berpotensi mengosongkan nilai budaya dari nail art yang mencolok.
“Tren itu benar-benar mempromosikan kepolosan, keseragaman, dan penghapusan budaya serta identitas yang sangat penting bagi komunitas kulit hitam dan cokelat,” jelas jurnalis kecantikan Kristina Rodulfo. “Hal itu sering disebut elegan atau berkelas, yang biasanya merupakan eufemisme untuk melanggengkan standar kecantikan supremasi kulit putih.”
Rodulfo menambahkan bahwa ketika perawatan kuku yang mencolok mulai diakses secara luas oleh masyarakat umum, kelompok papan atas cenderung bergeser ke estetika minimalis sebagai bentuk counter-signalling.
Penulis buku Nails: The Story of The Modern Manicure, Suzanne E. Shapiro, mengingatkan bahwa kuku polos pun sebenarnya tidak sepenuhnya alami karena tetap membutuhkan perawatan yang memakan biaya dan waktu. Kendati demikian, industri kuku yang sebagian besar dipelopori oleh perempuan tetap menjadi ruang yang memberdayakan bagi banyak pengusaha.
Menanggapi perdebatan yang terus berkembang, Scanlon menilai pilihan merawat kuku seharusnya dikembalikan kepada kenyamanan masing-masing individu tanpa penghakiman.
“Bagi saya, seperti, berhenti saja menghakimi diri kita sendiri dan orang lain,” kata Scanlon. “Beberapa orang suka kukunya dirawat, beberapa orang tidak. Sebenarnya: ini tidak sedalam itu.” (BBC/Z-2)
