
INDUSTRI Public Relations (PR) di Indonesia tengah mengalami transformasi besar. Kebutuhan perusahaan kini tidak lagi sekadar pada eksekusi komunikasi, melainkan bergeser ke arah dukungan strategis yang terukur dan berbasis data.
Temuan terbaru dari studi Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bertajuk “Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme terhadap Industri PR di Tahun 2026” mempertegas fenomena ini.
Studi yang menghimpun insight dari 24 perusahaan di 19 sektor tersebut menunjukkan bahwa manajemen reputasi tetap menjadi prioritas utama yang dibutuhkan hampir seluruh responden. Namun, yang menarik adalah tingginya permintaan terhadap market intelligence serta munculnya ekspektasi terhadap Return on Investment (ROI) sebagai dampak akhir dari kegiatan komunikasi.
| Kebutuhan Layanan PR | Persentase Responden |
|---|---|
| Manajemen Reputasi | ~100% |
| Market Intelligence | 75% |
| Integrated Marketing Communication | 60% |
| Dukungan Advokasi | 35% |
| Ekspektasi ROI sebagai Dampak Akhir | 25% |
Tantangan Pengukuran dan Standarisasi
Meskipun ekspektasi terhadap hasil konkret meningkat, praktik pengukuran di lapangan belum sepenuhnya konsisten. Data menunjukkan baru 36% responden yang melakukan pengukuran komunikasi secara berkala. Sementara itu, 32% hanya melakukan pengukuran saat proyek berlangsung, dan 32% sisanya belum melakukan pengukuran sama sekali.
Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, menekankan bahwa dorongan agar kerja PR dikaitkan dengan hasil konkret bagi organisasi adalah tantangan nyata.
“Tantangannya adalah bagaimana industri dapat membangun metode pengukuran yang relevan dan disepakati bersama sejak awal,” jelas Sari.
Sebagai langkah nyata, APPRI berencana mereformasi panduan pengukuran keberhasilan kerja PR dengan mengacu pada kerangka Association for Measurement and Evaluation of Communication (AMEC) dalam agenda kepengurusan 2024–2027.
Ekosistem Reputasi yang Kompleks
Pergeseran ini dipicu oleh lanskap komunikasi yang semakin terfragmentasi. Laporan We Are Social dan Meltwater 2026 mencatat ada sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia (62,9% populasi). Selain itu, 2026 Edelman Trust Barometer menyoroti besarnya pengaruh influencer dan ancaman misinformasi terhadap kepercayaan publik.
Kondisi ini mendorong lahirnya model konsultansi baru yang mengintegrasikan PR strategis dengan kemampuan digital, kreatif, dan data. Salah satu contohnya adalah Prologue, sebuah konsultan komunikasi strategis yang menggabungkan keahlian konsultan senior PR dengan profesional di bidang media buying, analytics, hingga transformasi bisnis berbasis teknologi.
CEO Prologue Indonesia, Dody Siregar, menyatakan bahwa integrasi bukan sekadar menambah layanan, melainkan menyatukan pemahaman atas bisnis dan risiko.
“Persoalannya adalah apakah riset, reputasi, kreativitas, distribusi, dan evaluasi dibangun berdasarkan satu pemahaman mengenai bisnis, stakeholder, dan risiko,” ungkap Dody.
Peran Teknologi dan Optimisme Industri
Di era digital, pengalaman praktisi PR kini diperkuat dengan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). AI digunakan untuk monitoring, analisis data, hingga sistem peringatan dini risiko reputasi. Pendekatan “Human Wisdom + AI Intelligence” menjadi kunci agar profesional tetap memimpin dalam interpretasi konteks dan etika, sementara teknologi mempercepat pengolahan data.
Meski tantangan semakin berat, optimisme di sektor PR tetap tinggi. Berikut adalah faktor pendorong optimisme industri menurut studi APPRI:
| Faktor Pendorong Optimisme | Persentase |
|---|---|
| Tingginya Kebutuhan Manajemen Reputasi | 41% |
| Kompleksitas Isu dan Krisis | 29% |
| Perkembangan Teknologi dan Data | 18% |
| Regulasi dan Akuntabilitas Publik | 12% |
Secara keseluruhan, 88% responden menyatakan optimistis hingga sangat optimistis terhadap pertumbuhan sektor PR dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Namun, keberhasilan ini akan sangat bergantung pada kemampuan industri untuk “naik kelas” melalui inovasi, adopsi teknologi, dan pembuktian dampak nyata terhadap bisnis organisasi. (Z-1)
