
LAGA UEFA Nations League antara Austria dan Israel, Jumat (25/9) di Linz menyita perhatian publik bukan hanya karena skor akhir 3-1 untuk kemenangan tuan rumah, melainkan akibat insiden kontroversial yang melibatkan penyerang muda Israel, Sayed Abu Farchi.
Pemain Colorado Rapids berusia 20 tahun itu sukses mencetak gol penyama kedudukan bagi timnya. Namun, kegembiraan tersebut berujung petaka ketika ia melakukan selebrasi dengan menggunakan bendera sudut lapangan (corner flag) seolah-olah sedang memegang dan menembakkan senapan.
Aksi tersebut langsung diganjar kartu kuning kedua oleh wasit karena dinilai melanggar aturan sepak bola terkait selebrasi yang bersifat provokatif atau memicu gestur kekerasan. Mengingat Abu Farhi sudah menerima kartu kuning sebelumnya, wasit tidak memiliki pilihan selain mengusirnya ke luar lapangan.
Insiden kartu merah ini terjadi di tengah memanasnya sorotan media terhadap situasi di Gaza, yang turut menyeret dunia sepak bola, termasuk kampanye boikot dari Republik Irlandia jelang laga internasional mendatang. Pertandingan di Linz sendiri berakhir dengan kekalahan Israel 3-1 lewat gol pembuka Romano Schmid serta dua gol penentu dari Phillipp Mwene dan Sasa Kalajdzic.
Kejadian ini sontak memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian pengamat menilai keputusan wasit terlalu keras, namun sebagian besar sepakat bahwa perangkat pertandingan hanya menegakkan aturan secara ketat. Gestur yang menyerupai bentuk senjata terlarang di lapangan hijau, memberikan pelajaran berharga bagi para pemain untuk senantiasa menjaga profesionalisme terlepas dari euforia gol di tengah emosi pertandingan yang tinggi.
(BBC/P-4)
