
BANK Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2026 tetap tumbuh positif. Posisi M2 tercatat sebesar Rp10.448,1 triliun atau tumbuh 8,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), melanjutkan tren pertumbuhan pada Juli 2026 yang sebesar 8,3% (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perkembangan M2 tersebut didukung oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi.
M1, yang memiliki pangsa 56,9% dari M2, tercatat sebesar Rp5.943,0 triliun pada Agustus 2026 atau tumbuh 9,0% (yoy). Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh giro rupiah (7,1% yoy) serta uang kartal di luar bank umum dan BPR (12,9% yoy). Sementara itu, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu mengalami peningkatan pertumbuhan menjadi 8,9% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,8% (yoy).
Komponen uang kuasi, dengan pangsa 42,4% dari M2, tumbuh 6,5% (yoy) menjadi Rp4.426,2 triliun. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan giro valas yang melonjak signifikan sebesar 11,8% (yoy) dari bulan sebelumnya yang hanya 5,1% (yoy). Selain itu, surat berharga selain saham juga mencatatkan kenaikan tinggi sebesar 66,5% (yoy).
Ramdan memaparkan bahwa faktor utama yang memengaruhi perkembangan M2 pada Agustus 2026 adalah penyaluran kredit. Total penyaluran kredit perbankan mencapai Rp9.019,3 triliun, tumbuh terakselerasi sebesar 13,3% (yoy) dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 13,0% (yoy).
“Peningkatan penyaluran kredit didorong oleh kenaikan penyaluran kredit kepada debitur korporasi sebesar 21,6% (yoy),” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Kamis (24/9).
Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan didominasi oleh:
- Kredit Modal Kerja (KMK): Tumbuh 12,3% (yoy), didorong sektor pertambangan, perdagangan, perhotelan, serta transportasi dan komunikasi.
- Kredit Investasi (KI): Tumbuh 23,4% (yoy), terutama pada sektor konstruksi dan jasa-jasa.
- Kredit Konsumsi (KK): Tumbuh 5,0% (yoy), sedikit melambat dari bulan sebelumnya akibat penurunan pada kredit kendaraan bermotor (-10,3% yoy).
Pertumbuhan Kredit UMKM dan Properti
Penyaluran kredit kepada UMKM juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 2,3% (yoy), meningkat dari 1,6% (yoy) pada bulan sebelumnya. Akselerasi ini terjadi di seluruh skala usaha, baik mikro (2,6%), kecil (1,0%), maupun menengah (3,8%).
Di sektor properti, penyaluran kredit tetap tumbuh tinggi sebesar 18,3% (yoy). Meskipun KPR dan KPA mengalami sedikit perlambatan ke angka 4,2% (yoy), sektor konstruksi properti masih mencatatkan pertumbuhan sangat kuat sebesar 49,5% (yoy).
Di sisi lain, tagihan bersih kepada pemerintah pusat mengalami kontraksi sebesar 7,0% (yoy) pada Agustus 2026, berbalik dari pertumbuhan 4,6% (yoy) pada bulan sebelumnya.
Adapun uang primer (M0) adjusted tercatat sebesar Rp2.281,5 triliun atau tumbuh 16,3% (yoy). Angka ini telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas dalam kerangka pengendalian moneter. (I-2)
