
ARAB Saudi memiliki sumber daya finansial yang melimpah dan persenjataan mutakhir. Namun selama lebih dari satu dekade, kerajaan ini belum mampu menundukkan kelompok Houthi yang tangguh di Yaman.
Kelompok yang didukung Iran tersebut kini bahkan telah menyerang Riyadh dengan rudal, menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman, dan memblokade ekspor minyak Saudi tanpa hambatan berarti.
Para pakar menilai kegagalan Arab Saudi dalam memukul mundur kelompok tersebut sebagian disebabkan oleh ketergantungan pada proksi lokal yang tidak efektif di lapangan. Di sisi lain, medan yang berat dan dukungan Iran telah memberikan keuntungan strategis bagi Houthi.
Mengapa Arab Saudi Kesulitan?
Kerajaan menghabiskan miliaran dolar untuk mengakuisisi persenjataan canggih dari produsen Barat, termasuk perusahaan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Pembelian senjata besar-besaran ini menjadi fitur utama kebijakan pertahanan dan strategi diplomatik Saudi untuk menarik simpati sekutunya. Pekan lalu, Amerika Serikat menyetujui penjualan 48 jet tempur siluman F-35 senilai US$24,3 miliar (sekitar Rp370 triliun) kepada Arab Saudi.
Namun, terlepas dari gudang senjata yang mengesankan, militer Saudi memiliki pengalaman terbatas dalam mengawasi operasi tempur kompleks secara mandiri. “Saudi harus membangun militer yang mau bertempur dan populasi yang rela berkorban untuk mempertahankan apa yang mereka miliki,” ujar Bernard Haykel, pakar Saudi dari Universitas Princeton. “Dan itu bukan apa yang mereka miliki saat ini.”
Para ahli juga berpandangan bahwa kekuatan militer kerajaan sengaja dibatasi dan terfragmentasi untuk mencegah kudeta, fenomena yang umum terjadi di kawasan tersebut. Ray Takeyh, pakar Timur Tengah, mencatat bahwa monarki Saudi tetap bertahan karena mereka menjaga militer tetap lemah secara struktural.
Ketangguhan Kelompok Houthi
Awalnya hanya bersenjata ringan, Houthi memanfaatkan medan pegunungan yang terjal dan ikatan kesukuan untuk membangun pertahanan yang sulit ditembus. Selama bertahun-tahun, dengan dukungan Iran, mereka mengumpulkan gudang senjata canggih berupa rudal dan drone.
Berbeda dengan pemerintah Yaman yang terpecah, Houthi tetap bersatu. “Houthi mampu membangun front persatuan,” kata Thomas Juneau dari Universitas Ottawa kepada AFP. “Mereka memiliki pemerintahan yang sangat tersentralisasi dengan komando dan kontrol yang kuat.”
Sejak 2023, kelompok ini membuktikan kemampuan mereka mengganggu lalu lintas Laut Merah sebagai respons atas perang di Gaza. Meski serangan berulang dari AS, Inggris, dan Israel pada 2024 dan 2025 merusak infrastruktur militer mereka, kemampuan rudal dan drone Houthi belum berhasil dinetralkan sepenuhnya.
Kerapuhan Pemerintah Yaman dan Perpecahan Sekutu
Arab Saudi memasuki perang Yaman pada 2015 bersama Emirat Arab untuk mendukung pemerintah yang terusir dari Sanaa. Namun, keretakan terjadi antara Riyadh dan Abu Dhabi. Pada Desember, pasukan yang didukung Emirat sempat merebut kendali di wilayah pemerintah, memicu kemarahan Riyadh dan berujung pada penarikan pasukan serta peralatan tempur Emirat.
Saudi terbukti tidak mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Emirat, meninggalkan pasukan yang tidak terorganisasi untuk mempertahankan wilayah strategis. “Pukulan berat dan koordinasi yang lemah dengan pihak Yaman menciptakan keruntuhan ini,” kata pakar Timur Tengah Michael Knights.
Gencatan senjata tahun 2022 berakhir pada Juli setelah Houthi secara terang-terangan menyambut pesawat Iran langsung ke Sanaa. Mereka kemudian memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi, menyerang fasilitas minyak, dan menguasai pesisir Laut Merah yang menghadap Bab al-Mandab.
Di lapangan, pasukan pemerintah Yaman mengeluhkan rendahnya moral akibat kekurangan senjata, amunisi, serta keterlambatan pembayaran gaji. Meskipun bantuan peralatan baru saja tiba di provinsi Lahj, para pejuang merasa dukungan tersebut masih jauh dari cukup untuk membalikkan keadaan. (I-2)
