Program GATI, Upaya Kemendukbangga Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan
Ilustrasi(MI/FICKY RAMADHAN)

KEMENTERIAN Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menyosialisasikan Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan memperkuat ketahanan keluarga.

Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN Irma Ardiana mengatakan, program tersebut salah satunya dilatarbelakangi hasil Pendataan Keluarga 2025 yang untuk pertama kalinya digunakan untuk menghitung kondisi fatherless di Indonesia.

“Pada tahun 2025 itu adalah kali pertama kita menghitung berapa angka fatherless di Indonesia. Hasilnya adalah satu dari empat anak di Indonesia merasakan tidak adanya ayah,” kata Irma di Jakarta, Kamis (17/9).

Irma menyebut angka fatherless berdasarkan pendataan tersebut mencapai sekitar 25,8 persen. Kondisi itu juga disebut sejalan dengan data BPS 2021 yang menunjukkan sekitar 37 persen anak usia 0-5 tahun diasuh oleh kedua orang tua kandung.

Menurut Irma, keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan pihaknya, keterbatasan keterlibatan ayah dapat berkaitan dengan persoalan akademik, kesehatan, kestabilan emosi, kecemasan, depresi, hingga kepercayaan diri anak.

“Cintanya ibu dan cintanya ayah itu sama pentingnya bagi tumbuh kembang. Jika salah satunya tidak seimbang, khususnya fatherly love, ternyata itu menimbulkan isu masalah akademik, anak lebih rentan terhadap isu kesehatan, emosinya menjadi tidak stabil, kemudian terjadi gangguan kecemasan, depresi dan tidak percaya diri,” ujarnya.

Ia mengatakan isu tersebut perlu mendapat perhatian karena Indonesia sedang berada dalam momentum bonus demografi. Berdasarkan SUPAS 2025, hampir 70 persen penduduk Indonesia berada dalam kelompok usia produktif.

“Ketika mereka isunya fatherless, kemudian kita lihat lagi dampaknya, maka sebenarnya mereka ini menjadi populasi yang sangat besar, tetapi kemudian rentan,” ucapnya.

Program GATI menyasar remaja laki-laki sebagai calon ayah serta ayah yang memiliki anak usia dini, praremaja, dan remaja berusia 10-24 tahun yang belum menikah.

Irma menjelaskan, Program GATI memiliki empat layanan. Pertama, Ayah Halo GATI, yakni layanan konsultasi bagi ayah untuk mendapatkan ruang berdiskusi mengenai peran dan pengasuhan.

Kedua, pendekatan berbasis komunitas melalui Kompak Tenan yang melibatkan komunitas pendidik dan komunitas ayah teladan. Program tersebut juga menyasar ayah yang berstatus ASN.

Ketiga, penguatan peran ayah melalui Desa/Kelurahan GATI, khususnya di Kampung Keluarga Berkualitas. Keempat, pendekatan melalui institusi pendidikan dengan program Sekolah Bersama Ayah.

Menurut Irma, pendekatan komunitas menjadi bagian penting karena ayah membutuhkan dukungan sosial dalam menjalankan peran pengasuhan.

“Kalau pendekatannya komunitas, ayah itu sebenarnya ingin belajar juga dari lingkungan sosial. Dia membutuhkan dukungan sosial karena masih ada hambatan dari sisi sosial,” tuturnya.

Ia mengatakan lingkungan sosial juga dapat membantu ayah mengubah pola pengasuhan yang diperoleh dari generasi sebelumnya. Pemahaman bahwa pola pengasuhan tertentu tidak tepat, kemudian diperkuat oleh lingkungan sosial, dapat mendorong ayah menerapkan pola pengasuhan yang berbeda.

Melalui Program GATI, Kemendukbangga/BKKBN mendorong peran ayah tidak hanya terbatas sebagai pencari nafkah, tetapi juga terlibat dalam pengasuhan, membangun kedekatan emosional, dan memenuhi kebutuhan kasih sayang anak.  (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *