Lima Jam Terombang-ambing di Laut, Warga Bandung Barat Selamat dari Tragedi KM Virgo Transport 8
Faisal Weskurni (tengah), warga Bandung Barat yang selamat dari kecelakaan laut yang melibatkan KM Virgo Transport 8 di laut Jawa.(Dok Istimewa )

SEORANG warga Kabupaten Bandung Barat berhasil selamat dari kecelakaan laut yang melibatkan KM Virgo Transport 8. Kapal tersebut tenggelam di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) sekitar pukul 01.30 Wita.

Faisal Weskurni, 25, warga Kampung Parakan Tolok, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, merupakan salah satu penumpang kapal yang berhasil menyelamatkan diri dari musibah tersebut.

Saat itu, Faisal hendak menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Namun, kapal yang ditumpanginya tenggelam di tengah perjalanan.

Setelah berhasil diselamatkan dan kembali ke kampung halamannya, Faisal memilih berkumpul bersama keluarga. Ia belum memutuskan untuk kembali bekerja karena ingin memulihkan kondisi setelah mengalami musibah tersebut.

“Saya sudah berkomunikasi dengan pihak perusahaan, mau istirahat dahulu menenangkan diri. Nanti insya Allah berangkat lagi,” kata Faisal, Senin (21/9).

Faisal kemudian menceritakan detik-detik sebelum kapal tenggelam. Sekitar tengah malam, ia masih terjaga dan sedang merokok di dalam kapal.

Tiba-tiba, terdengar suara ledakan keras dari sisi kiri kapal. Tak lama kemudian, badan kapal mulai miring dan kondisi di dalam kapal berubah menjadi gelap.

“Sebelum kejadian, sempat ngedengar suara ledakan di sebelah kiri kapal, habis itu miring. Saya bergegas ngambil pelampung,” ujarnya.

Dengan pelampung terpasang di tubuhnya, Faisal berusaha menyelamatkan diri dengan menuju bagian atas kapal. Ia menyebut kondisi laut saat itu cukup berombak, dengan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 3 meter.

“Cuaca baik-baik aja, nggak lagi hujan, tapi ombak memang lagi tinggi sekitar 2,5 meter sampai 3 meteran,” ungkapnya.

Dari atas kapal, Faisal melihat sejumlah penumpang berusaha meminta pertolongan. Sebagian lainnya mulai tercebur ke laut ketika kapal semakin tenggelam.

“Saya naik ke atas kapal, ngikutin arus kapal yang mau tenggelam. Ketika dari atas kapal, saya lihat banyak orang minta tolong, terus ada yang tenggelam,” tuturnya.

Setelah kapal sepenuhnya tenggelam, Faisal harus bertahan hidup di tengah laut. Dengan menggunakan pelampung, ia terombang-ambing selama sekitar lima jam hingga akhirnya ditemukan oleh sebuah kapal tongkang.

“Dari kapal tongkang, saya kemudian dibawa ke posko penyelamatan sekitar pukul 18.00 Wita,” lanjut Faisal.

Faisal juga mengaku tidak mendengar alarm atau sirene peringatan sebelum kapal tenggelam. Padahal, saat kejadian banyak penumpang masih dalam kondisi tertidur.

Ia berharap musibah tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan sistem keselamatan transportasi laut, mulai dari peringatan dini, penyampaian informasi kondisi cuaca kepada penumpang, hingga prosedur evakuasi.

“Kalau sudah ada ombak besar, seharusnya informasikan sama penumpang biar semuanya selamat. Dibenahi juga sistem transportasi laut, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” pungkasnya. (DG/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *