Dokter: Anak Disleksia Butuh Pendampingan dan Akomodasi Belajar Khusus, Ini Penjelasannya
Ilustrasi, metode belajar anak disleksia.(Dok. Magnific)

DOKTER spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan, Farid Agung Rahmadi, menekankan pentingnya pendampingan bagi anak dengan gangguan belajar spesifik seperti disleksia. Pendampingan ini diperlukan baik di rumah maupun di lingkungan sekolah agar proses belajar tetap efektif.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut menjelaskan bahwa guru memegang peranan vital. Tenaga pendidik diharapkan memiliki kemampuan mengenali pola kesulitan belajar anak guna memberikan intervensi awal.

Tahapan Intervensi di Sekolah

Menurut dr. Farid, intervensi di sekolah dapat dilakukan secara bertahap melalui beberapa metode:

  • Pembelajaran umum di dalam kelas.
  • Pendekatan dalam kelompok kecil.
  • Pendampingan secara individual jika diperlukan.

Jika kesulitan belajar terus berlanjut tanpa perbaikan signifikan, guru disarankan segera berkomunikasi dengan orang tua agar anak dapat menjalani asesmen oleh tenaga profesional.

Bentuk Akomodasi Pembelajaran

Selain pendampingan, dr. Farid menyebutkan bahwa sekolah dapat memberikan akomodasi khusus untuk membantu siswa disleksia, di antaranya:

  • Pemberian waktu tambahan saat ujian.
  • Membacakan teks yang terlalu panjang bagi siswa.
  • Memungkinkan siswa menjawab soal secara lisan.
  • Penggunaan ukuran huruf yang lebih besar pada materi bacaan.
  • Menempatkan anak di area belajar dengan gangguan (distraksi) yang minim.

Dalam kondisi tertentu, keberadaan guru pendamping khusus juga dapat dipertimbangkan untuk membantu anak mengikuti proses pembelajaran dengan optimal.

Membangun Kepercayaan Diri Anak

Dr. Farid menegaskan bahwa dukungan lingkungan sangat memengaruhi kondisi psikologis anak. “Faktor kepercayaan diri itu sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Kalau lingkungan sekolah dan rumah memberikan dukungan yang tepat, tentu hasilnya akan lebih baik,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta.

Mengenali Gejala Disleksia

Gejala disleksia biasanya mulai terlihat saat anak belajar membaca, terutama pada usia kelas 1 hingga 3 SD. Anak cenderung konsisten kesulitan mengenali huruf, membedakan bunyi huruf, hingga mengeja saat huruf konsonan digabung dengan vokal.

Salah satu indikator sederhana untuk mengenali disleksia adalah dengan membandingkan hasil tes lisan dan tertulis. Anak dengan disleksia umumnya menunjukkan pemahaman materi yang jauh lebih baik saat soal dibacakan (lisan) dibandingkan ketika mereka harus membaca soal tersebut sendiri secara tertulis. (Ant/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *