Anak Sering Ngorok saat Tidur? Ada Kaitannya dengan Fungsi Otak
ilustrasi anak tidur.(Magnific)

SUARA ngorok pada anak saat tidur sering dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika anak sedang kelelahan. Namun, jika terjadi berulang kali, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pernapasan saat tidur yang dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan kemampuan kognitif dan perilaku anak.

Kondisi ini perlu diperhatikan karena gangguan pernapasan saat tidur dapat menyebabkan kualitas tidur anak terganggu. 

Padahal, tidur berperan dalam berbagai proses perkembangan, termasuk fungsi otak yang berkaitan dengan perhatian, memori, kemampuan berpikir, dan pengendalian perilaku.

Ngorok Berkaitan dengan Perubahan Otak

Ngorok dapat menjadi salah satu gejala sleep-disordered breathing (SDB), yakni gangguan pernapasan saat tidur yang membuat aliran udara melalui saluran pernapasan terganggu. Dalam kondisi tertentu, SDB dapat disertai jeda napas atau kesulitan bernapas ketika anak tertidur.

Berdasarkan laporan dari National Institutes of Health (NIH), penelitian terhadap lebih dari 11.000 anak berusia 9-10 tahun menemukan hubungan antara kebiasaan ngorok, masalah perilaku, dan perbedaan struktur pada sejumlah bagian otak.

Area yang diamati termasuk bagian lobus frontal yang berkaitan dengan fungsi seperti pemecahan masalah, pengendalian impuls, dan interaksi sosial.  Anak yang mengalami kebiasaan ngorok juga dilaporkan memiliki masalah perilaku yang lebih besar berdasarkan penilaian orang tua.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa ngorok secara langsung menyebabkan perubahan otak atau masalah perilaku. Para peneliti menyebut diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami hubungan tersebut.

Kemampuan Kognitif Turut Diteliti

Penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Otolaryngology-Head & Neck Surgery juga meneliti hubungan kebiasaan ngorok dengan kemampuan kognitif anak.

Dikutip dari NIH, penelitian terhadap 11.873 anak usia 9-10 tahun menemukan 810 anak atau 6,8 persen dilaporkan mengalami kebiasaan ngorok setidaknya tiga malam dalam seminggu.

Analisis awal menunjukkan anak yang sering ngorok memiliki skor kognitif lebih rendah, termasuk dalam kemampuan penalaran untuk menyelesaikan masalah baru. 

Namun, setelah faktor seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, pendapatan keluarga, dan pendidikan pengasuh diperhitungkan, hubungan tersebut menjadi jauh lebih lemah.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dikutip dari NIH, penelitian terhadap 205 anak berusia lima tahun menemukan gejala SDB berkaitan dengan skor yang lebih rendah pada beberapa pengujian fungsi eksekutif, memori, dan kemampuan intelektual umum.

Temuan tersebut membuat kebiasaan ngorok pada anak perlu dilihat bersama gejala lainnya. Ketika ngorok berlangsung rutin atau disertai gangguan pernapasan saat tidur, kondisi tersebut dapat menjadi tanda yang perlu dievaluasi lebih lanjut. (Sumber: National Institutes of Health (NIH)/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *