
TIDAK hanya mengepung Kota Jambi, kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sudah meluas ke seluruh pelosok Jambi. Mulai dari daerah pesisir timur hingga Kota Sungaipenuh dan Kabupaten Kerinci yang berada pegunungan Bukit Barisan di belahan barat daya Provinsi Jambi.
Namun, dari deteksi alat pemantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup di Jambi, tingkat pencemaran kabut asap terparah Kota Jambi, Kabupaten Muarojambi, Tanjungjabung Timur dan Kabupaten Tebo.
Seperti hari Jumat (18/9), kendati fluktuatif ISPU di Kota Jambi dan Kabupaten Muarojambi tercatat di kisaran angka 200 hingga 300 atau tergolong sangat tidak sehat dan mendekati level berbahaya.
Sementara pencemaran kabut asap kualitas udara di Kabupaten Tanjungjabung Timur dan Kabupaten Tebo, terbilang tidak sehat, dengan ISPU di atas angka 100 – 200.
Kendati tidak ada alat pemantau, sebaran kabut asap dilaporkan warga juga menyelimuti Kabupaten Batanghari yang letaknya bersebelahan dengan Kota Jambi dan Kabupaten Muarojambi. Kabut asap pekat, sepanjang Jumat pagi dan siang ini, dilaporkan juga menyesakkan hidung warga pesisir timur Jambi, yakni di Kota Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjungjabung Barat.
Kabut asap karhutla, dari informasi yang dihimpun Media Indonesia, juga menyelimuti sebagian wilayah Kabupaten Sarolangun, Bungo, Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Kendati tidak seburuk di Kota Jambi dan Kabupaten Muarojambi, kabut asap tersebut juga dikeluhkan warga saat beraktivitas di luar rumah.
“Kabut asap dari kebakaran lahan ini sudah menggejala semenjak pekan lalu di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Semenjak tiga hari ini, semakin pekat dan mengganggu jarak pandang,” ungkap Jhoni, warga Kabupaten Kerinci, Jumat.
Ganggu Penerbangan
Tutupan kabut asap karhutla yang memutihkan langit Kota Jambi sepanjang Jumat (18/9), dilaporkan kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Syaefuddin (STS) Jambi.
General Manager Bandara STS Jambi Ardon Marbun mengamini hal itu. Menurutnya gangguan kabut asap itu terhadap operasional penerbangan terjadi pasca pukul 11.00 WIB. Sebelum itu, sebut Ardon Marbun, aktivitas keberangkatan dan kedatangan pesawat penumpang masih berjalan, karena visibility (jarak pandang) masih terbilang laik, mendekati 2.000 meter.
Namun pukul 12.00 WIB, jarak pandang melorot 1.500 meter. Sehingga demi keselamatan penerbangan, maskapai Super Air Jet IU 842 dari Jakarta – Jambi, dialihkan (diverted) pendaratannya ke Bandara Batam.(SL/E-4)
