
HEWAN ubur-ubur menjadi salah satu hasil tangkapan yang mendominasi aktivitas nelayan di pesisir Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, selama musim angin timur dalam sebulan terakhir.
Melimpahnya ubur-ubur membuat sejumlah nelayan kapal kecil memilih beralih menangkap komoditas laut tersebut. Dalam sekali melaut, mereka bahkan mampu membawa pulang hingga sekitar 1 ton ubur-ubur.
Dodi, salah seorang nelayan Cilacap, mengatakan hasil tangkapan sekitar 1 ton merupakan rata-rata yang dapat dibawa oleh satu perahu berukuran kecil dalam sehari. “Paling ya satu ton (sehari). Itu hitungan rata-rata untuk satu perahu kecil,” kata Dodi.
Menurut Dodi, menangkap ubur-ubur relatif mudah. Namun, jumlah hasil tangkapan sangat bergantung pada kondisi laut dan cuaca saat nelayan melaut. “Tapi ya tidak tentu, tergantung kondisi rezeki dan kondisi laut,” ujarnya.
Selain kondisi alam, nelayan juga harus menghadapi risiko rasa gatal akibat terkena ubur-ubur ketika menangkap dan mengumpulkannya.
Dodi mengatakan, rasa gatal akibat bersentuhan dengan ubur-ubur sudah menjadi hal yang biasa dialami nelayan. Penanganannya pun relatif sederhana. “Sebenarnya kalau rasa gatal sudah biasa. Cukup dibilas pakai air bersih juga biasanya sudah teratasi,” katanya.
Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Saroyo Cilacap, Untung Jayanto, mengatakan hasil tangkapan ubur-ubur umumnya tidak masuk dalam catatan produksi tempat pelelangan ikan (TPI) yang dikelola koperasi. Sebab, ubur-ubur yang ditangkap nelayan biasanya langsung dijual kepada pengepul. “Banyak, tapi itu langsung ke pengepul, tidak terdata di koperasi,” ujar Untung.
Saat ini, aktivitas pelelangan ikan di Cilacap masih berlangsung di TPI Tegalkatilayu dan TPI Dermaga 3 PPS Cilacap. Sementara aktivitas pelelangan di TPI Kemiren dialihkan ke Dermaga 3 PPS Cilacap.
Untung mengatakan nilai produksi hasil pelelangan ikan pada Agustus 2026 mencapai sekitar Rp14 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli yang masih berada di bawah Rp14 miliar. “Kalau bulan Juli masih di bawah Rp14 miliar. Semoga ke depan masih bisa meningkat,” katanya.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Indarto, mengatakan melimpahnya ubur-ubur menjadi peluang bagi nelayan kapal kecil karena komoditas tersebut mudah diserap pengepul hingga eksportir.
“Dengan adanya ubur-ubur, tangkapan nelayan meningkat. Sudah memasuki bulan kedua dan memang sedang mendominasi,” kata Indarto.
Menurut dia, kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas pelelangan ikan di sejumlah TPI yang cenderung lebih sepi. Nelayan dengan kapal berukuran di bawah 5 gros ton (GT) banyak yang memilih menangkap ubur-ubur.
Ubur-ubur hasil tangkapan nelayan selanjutnya dijual kepada pengepul sebelum dikirim ke eksportir di luar Cilacap.
Setelah melalui sejumlah proses, termasuk pengeringan, ubur-ubur tersebut dikirim ke eksportir di Jakarta untuk kemudian diekspor ke sejumlah negara di Asia Timur, seperti China dan Jepang. Komoditas tersebut antara lain dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan kosmetik.
Indarto mengatakan harga ubur-ubur saat ini berada di kisaran Rp800 per kg di wilayah perkotaan Cilacap. Sementara di wilayah Jetis, harga bisa mencapai Rp1.100 per kg.
“Harga jual ubur-ubur di wilayah perkotaan Cilacap saat ini Rp800 per kilogram, sedangkan di wilayah Jetis mencapai Rp1.100 per kilogram, dan harganya relatif sama dengan kisaran harga dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.
Menurut Indarto, produktivitas nelayan cukup tinggi. Kapal fiber berukuran sekitar 5 GT yang berangkat sejak pagi dapat melakukan hingga tiga kali perjalanan dalam sehari. Setiap perjalanan, kapal tersebut dapat membawa sekitar 1 ton ubur-ubur.
Kapal fiber itu biasanya dioperasikan oleh dua nelayan. Lokasi penangkapan juga relatif dekat sehingga kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) tidak terlalu besar.
“Daerah tangkapan ubur-ubur sekitar jalur 1 penangkapan atau berjarak sekitar 4 mil laut dari bibir pantai, sehingga kebutuhan bahan bakar minyak untuk operasional kapal fiber tidak terlalu banyak,” ujarnya.
Indarto memperkirakan musim penangkapan ubur-ubur masih akan berlangsung sekitar dua bulan ke depan. Aktivitas tersebut diperkirakan bertahan selama musim kemarau dan sebelum curah hujan kembali meningkat. (LD/E-4)
