
PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron secara resmi menginstruksikan jajaran pemerintahannya untuk mengambil langkah luar biasa guna mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM) yang tengah melanda negara tersebut. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah Prancis, Maud Bregeon, dalam konferensi pers pada Rabu (16/9/2026).
Instruksi tersebut mencakup dua fokus utama: menjamin stabilitas pasokan energi nasional dan mengendalikan lonjakan harga di tingkat konsumen. Krisis ini dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan Iran sejak Februari 2026, yang berdampak langsung pada rantai pasok energi global.
Harga BBM Melonjak 30 Persen
Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, sebelumnya telah memperingatkan bahwa tekanan harga energi tidak akan mereda dalam waktu dekat. Menurut data pemerintah, rata-rata harga BBM di Prancis telah melonjak hampir 30 persen dibandingkan periode sebelum krisis pecah.
Saat ini, harga solar di stasiun pengisian bahan bakar telah menyentuh angka 2,30 euro atau sekitar Rp46.809 per liter. Sementara itu, bensin dibanderol seharga 2,10 euro atau setara Rp42.738 per liter.
| Jenis Bahan Bakar | Harga (Euro) | Harga (Rupiah)* |
|---|---|---|
| Solar | 2,30 Euro | Rp46.809 |
| Bensin | 2,10 Euro | Rp42.738 |
*Kurs konversi berdasarkan data input user.
Dampak Konflik Iran
Lescure menegaskan bahwa tingginya harga energi merupakan konsekuensi jangka panjang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pemerintah Prancis memprediksi tingkat harga ini akan tetap tinggi dalam waktu yang lama, sehingga diperlukan kebijakan intervensi yang kuat untuk melindungi daya beli masyarakat.
“Presiden telah mengarahkan pemerintah untuk berupaya penuh guna memastikan pasokan di satu sisi serta mengendalikan harga di sisi lain,” tegas Bregeon mengutip arahan Macron.
Langkah-langkah teknis terkait pengendalian harga dan mekanisme subsidi pasokan diharapkan akan segera diumumkan oleh kementerian terkait guna meredam gejolak ekonomi di tingkat rumah tangga dan industri.
