{"id":95558,"date":"2026-08-30T10:32:40","date_gmt":"2026-08-30T03:32:40","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/30\/intensitas-el-nino-saat-ini-menjadi-yang-terkuat-dalam-1-000-tahun-terakhir\/"},"modified":"2026-08-30T10:32:40","modified_gmt":"2026-08-30T03:32:40","slug":"intensitas-el-nino-saat-ini-menjadi-yang-terkuat-dalam-1-000-tahun-terakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/30\/intensitas-el-nino-saat-ini-menjadi-yang-terkuat-dalam-1-000-tahun-terakhir\/","title":{"rendered":"Intensitas El Ni\u00f1o Saat Ini Menjadi yang Terkuat dalam 1.000 Tahun Terakhir"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/30\/1788048479_c77d2c91c04bc276d93d.jpg\" alt=\"Intensitas El Ni\u00f1o Saat Ini Menjadi yang Terkuat dalam 1.000 Tahun Terakhir\"\/><figcaption>Ilustrasi(Magnific)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>FENOMENA iklim El Ni\u00f1o yang melanda Samudra Pasifik kini berada pada tingkat kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science, intensitas peristiwa El Ni\u00f1o dalam empat dekade terakhir melonjak hingga hampir 40% lebih kuat dibandingkan era pra-industri, sekaligus menjadi yang terkuat dalam 1.000 tahun terakhir.<\/p>\n<p>Penelitian yang dipimpin tim ilmuwan dari University of Michigan ini menguji sejarah iklim Bumi melalui analisis sampel terumbu karang purba dan modern di Kepulauan Gal\u00e1pagos. Terumbu karang mencatat perubahan suhu permukaan laut secara akurat dalam jangka waktu yang sangat panjang, memberikan gambaran jelas mengenai dinamika iklim masa lalu.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Penulis utama studi tersebut, Julia Cole, yang juga menjabat sebagai profesor dan ketua Departemen Ilmu Bumi dan Lingkungan di University of Michigan, menegaskan ketidaknormalan fenomena ini.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/internasional\/901033\/fenomena-super-el-nino-dimulai-dampak-cuaca-ekstrem-dan-ancaman-ekonomi-global\" title=\"Fenomena Super El Nino Dimulai: Dampak Cuaca Ekstrem dan Ancaman Ekonomi Global\" target=\"_blank\">Fenomena Super El Nino Dimulai: Dampak Cuaca Ekstrem dan Ancaman Ekonomi Global<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&#8220;Kami tidak menemukan periode di masa lalu di mana El Ni\u00f1o sekuat saat ini, dan kami menunjukkan bahwa kekuatan El Ni\u00f1o berubah sejajar dengan pemanasan suhu global,&#8221; ujar Cole. &#8220;Temuan kami menunjukkan bahwa peristiwa besar El Ni\u00f1o dalam 40 tahun terakhir bukanlah hal yang normal dalam konteks seribu tahun terakhir.&#8221;<\/p>\n<p>Secara alami, El Ni\u00f1o terjadi ketika angin pasat yang bertiup di sepanjang khatulistiwa melemah. Kondisi ini menyebabkan penumpukan air hangat di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang kemudian mengubah pola sirkulasi atmosfer secara global.<\/p>\n<p>Namun, simulasi komputer yang dilakukan tim peneliti membuktikan bahwa fenomena El Ni\u00f1o saat ini bukan sekadar variasi alamiah berulang. Para ilmuwan menguji berbagai faktor alami masa lalu, seperti letusan gunung berapi dan variabilitas radiasi matahari. Hasilnya menunjukkan tidak ada proses alami tunggal yang mampu memicu lonjakan kekuatan El Ni\u00f1o seperti yang terjadi beberapa dekade terakhir.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/weekend\/590193\/kematian-massal-burung-di-meksiko-diduga-kuat-terkait-el-nino\" title=\"Kematian Massal Burung di Meksiko Diduga Kuat Terkait El Nino\" target=\"_blank\">Kematian Massal Burung di Meksiko Diduga Kuat Terkait El Nino<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Para ahli menyimpulkan bahwa akumulasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia merupakan pendorong utama di balik fenomena ini. Pemanasan global bertindak sebagai penguat (supercharger) yang melipatgandakan efek hangat El Ni\u00f1o di lautan.<\/p>\n<h2>Ancaman Krisis dan Dampak Global<\/h2>\n<p>Peningkatan intensitas El Ni\u00f1o membawa konsekuensi serius bagi stabilitas cuaca dunia. Pergeseran pola presipitasi memicu kekeringan parah di wilayah Pasifik Barat seperti Indonesia, sementara memicu curah hujan ekstrem dan banjir di bagian Amerika Selatan dan wilayah lainnya.<\/p>\n<p>Cole memperingatkan bahwa penguatan fenomena ini akan memperparah krisis ekologis, kerusakan infrastruktur, hingga ancaman kesehatan masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Kami percaya pemanasan global memperkuat El Ni\u00f1o secara ekstrem, dan jika itu benar, maka kita harus bersiap menghadapi <a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/cuaca-ekstrem\" title=\"Cuaca Ekstrem\">cuaca ekstrem<\/a> yang lebih kuat yang akan memperbesar kerugian ekologis, infrastruktur, dan manusia. Tidak ada negara yang memiliki sumber daya yang cukup untuk sepenuhnya terlindungi dari dampak ini,&#8221; tutur Cole.<\/p>\n<p>Temuan ini menegaskan kembali urgensi global untuk mempercepat transisi dari bahan bakar fosil demi menekan laju pemanasan global sebelum cuaca ekstrem menjadi kondisi yang makin tidak terkendali. (EArth\/Z-2)<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/humaniora\/927524\/intensitas-el-nio-saat-ini-menjadi-yang-terkuat-dalam-1000-tahun-terakhir\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Magnific) FENOMENA iklim El Ni\u00f1o yang melanda Samudra Pasifik kini berada pada tingkat kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science, intensitas peristiwa El Ni\u00f1o dalam empat dekade terakhir melonjak hingga hampir 40% lebih kuat dibandingkan era pra-industri, sekaligus menjadi yang terkuat dalam 1.000 tahun terakhir. Penelitian yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":95559,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-95558","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95558"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95558\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95559"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}