{"id":95424,"date":"2026-08-30T00:00:37","date_gmt":"2026-08-29T17:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/30\/muktamar-nu-ke-35-saatnya-pesantren-jadi-kompas-hadapi-perubahan-zaman\/"},"modified":"2026-08-30T00:00:37","modified_gmt":"2026-08-29T17:00:37","slug":"muktamar-nu-ke-35-saatnya-pesantren-jadi-kompas-hadapi-perubahan-zaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/2026\/08\/30\/muktamar-nu-ke-35-saatnya-pesantren-jadi-kompas-hadapi-perubahan-zaman\/","title":{"rendered":"Muktamar NU ke-35 saatnya Pesantren Jadi Kompas Hadapi Perubahan Zaman"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div>\n<figure class=\"main-img\">\n                                <img decoding=\"async\" class=\"zoomable\" src=\"https:\/\/asset.mediaindonesia.com\/news\/2026\/08\/29\/1788014168_0fd47cf86b8269f38001.jpg\" alt=\"Muktamar NU ke-35: saatnya Pesantren Jadi Kompas Hadapi Perubahan Zaman\"\/><figcaption>Ilustrasi(Dok Metro TV)<\/figcaption><\/figure>\n<p>                                                                <!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27\u201331 Agustus 2026, menjadi momentum strategis untuk menentukan arah organisasi menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tantangan generasi muda.<br \/>&#13;<br \/>\n<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/tag\/muktamar-nu\" title=\"Muktamar NU\">Muktamar NU<\/a> ke-35 tak hanya berkaitan dengan pergantian kepemimpinan, tapi juga masa depan organisasi dan kontribusinya terhadap pembangunan nasional.<\/p>\n<p>Sehari menjelang pembukaan Muktamar, sejumlah kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menyerukan agar proses Muktamar berlangsung bermartabat, demokratis, jujur, serta bebas dari tekanan dan intervensi.<br \/>&#13;<br \/>\nPemerhati Pendidikan dan Transformasi Sosial Saifullah Isri menilai pesan itu menjadi pengingat agar dinamika politik organisasi tak menggeser nilai-nilai utama NU, terutama persaudaraan dan tradisi keilmuan pesantren.<\/p>\n<p><!-- \/26225854,21835028929\/MediaIndonesia\/mediaindonesia.com\/300x250_3 --><\/p>\n<p>\u201cPesantren bukan hanya tempat belajar kitab, tapi juga tempat belajar adab. Ketika NU menghadapi momentum besar seperti Muktamar, nilai-nilai pesantren harus jadi kompas agar kontestasi tidak menghilangkan persaudaraan,\u201d ujar Saifullah, Sabtu (29\/8\/2026).<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/927449\/muktamar-nu-putuskan-voting-untuk-pemilihan-ketum-pbnu\" target=\"_blank\" title=\"Muktamar NU Putuskan Voting untuk Pemilihan Ketum PBNU\u00a0\">Muktamar NU Putuskan Voting untuk Pemilihan Ketum PBNU\u00a0<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menurut Saifullah, tantangan NU ke depan jauh lebih besar daripada sekadar menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026\u20132031. NU harus mampu merespons transformasi pendidikan, ekonomi digital, perubahan dunia kerja, hingga perkembangan artificial intelligence (AI).<\/p>\n<p>\u201cGenerasi muda NU hidup dalam ekosistem berbeda. Mereka belajar melalui YouTube, berkomunikasi melalui WhatsApp, memperoleh informasi dari media sosial dan mulai berinteraksi dengan AI. NU harus hadir di ruang-ruang tersebut tanpa kehilangan akar tradisi pesantren,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menilai NU membutuhkan kepemimpinan yang tak cuma memiliki kekuatan moral dan keagamaan, tapi juga kemampuan manajerial, teknologi, ekonomi, dan membaca perubahan sosial.<\/p>\n<p class=\"related-news\"><strong>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/927426\/sidang-pleno-soal-pemilihan-ketum-pbnu-deadlock\" target=\"_blank\" title=\"Sidang Pleno Soal Pemilihan Ketum PBNU Deadlock\">Sidang Pleno Soal Pemilihan Ketum PBNU Deadlock<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Saifullah menegaskan pesantren memiliki modal penting untuk menghadapi era AI melalui tradisi keilmuan, sanad, talaqqi, tabayyun, dan pembentukan karakter.<\/p>\n<p>\u201cAI bisa menghasilkan informasi, tetapi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan. Algoritma bisa menentukan apa yang kita lihat, tetapi tidak boleh menentukan apa yang kita yakini. Di sinilah pesantren memiliki peran penting sebagai kompas moral,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Karena itu, pesantren perlu naik kelas dari sekadar objek kebijakan menjadi pusat pemikiran strategis bangsa. Pesantren dapat memperluas kontribusi pada isu pendidikan, ekonomi, lingkungan, teknologi, AI, ekonomi digital, ketahanan pangan, hingga visi Indonesia 2045.\u00a0Sementara itu, Tokoh Millenial PBNU Gus Fauzi Mahendra mengatakan Muktamar NU ke-35 harus menghasilkan agenda yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.<\/p>\n<p>\u201cAnak muda NU hari ini tidak hanya menunggu siapa Ketua Umum PBNU. Mereka menunggu apa yang bisa NU lakukan untuk menjawab persoalan pendidikan, lapangan kerja, ekonomi digital, AI, hoaks, dan perubahan sosial,\u201d kata Gus Fauzi.<\/p>\n<p>Menurutnya, besarnya jumlah warga NU harus diikuti kemampuan organisasi menciptakan dampak nyata. \u201cJumlah yang besar tidak otomatis menjadi kekuatan. Kekuatan muncul ketika potensi Nahdliyin di bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, profesional, pesantren, dan komunitas bisa diorganisasi menjadi kekuatan produktif,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Gus Fauzi juga mengingatkan agar perbedaan dalam Muktamar tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Menurutnya, rekonsiliasi harus menjadi agenda penting setelah seluruh proses pemilihan selesai.<br \/>&#13;<br \/>\n\u201cJangan sampai kontestasi membuat kita bermusuhan. Setelah Muktamar selesai, seluruh elemen NU tetap harus bisa duduk bersama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Saifullah menilai Muktamar NU ke-35 harus menghasilkan lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan. Forum tersebut harus melahirkan arah baru bagi NU dalam menghadapi tantangan nasional dan global.\u00a0\u201cMuktamar jangan hanya menghasilkan Ketua Umum baru, tetapi arah baru. Jangan hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi energi baru. Dan jangan hanya menghasilkan pemenang kontestasi, tetapi persaudaraan baru,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Ia berharap kepemimpinan NU mendatang memperkuat pendidikan, ekonomi umat, transformasi digital, pemberdayaan generasi muda, dan kesiapan menghadapi perubahan teknologi.<\/p>\n<p>\u201cNU harus mulai memikirkan roadmap menuju Indonesia 2045. Organisasi sebesar NU memiliki modal sosial yang sangat besar untuk ikut menentukan masa depan bangsa,\u201d kata Saifullah.<\/p>\n<p>Muktamar NU ke-35 pada akhirnya bukan hanya menjadi forum memilih pemimpin, tetapi momentum menentukan bagaimana NU memasuki abad keduanya: tetap berakar pada tradisi pesantren, namun mampu menjawab tantangan teknologi, generasi muda, dan perubahan global. \u201cBoleh berubah dalam cara, tetapi jangan kehilangan arah,\u201d ujar Saifullah. (H-2)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/mediaindonesia.com\/politik-dan-hukum\/927468\/muktamar-nu-ke-35-saatnya-pesantren-jadi-kompas-hadapi-perubahan-zaman\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilustrasi(Dok Metro TV) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27\u201331 Agustus 2026, menjadi momentum strategis untuk menentukan arah organisasi menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tantangan generasi muda.&#13; Muktamar NU ke-35 tak hanya berkaitan dengan pergantian kepemimpinan, tapi juga masa depan organisasi dan kontribusinya terhadap pembangunan nasional. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":95425,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-95424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95424"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95424\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95425"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/faktaberita.info\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}